Warga Kayumalue Jadi Korban Perdagangan Orang di Arab Saudi, Begini Kronologinya
Palu – Seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia, asal Kayumalue Ngapa, Kota Palu, berinisial SW menjadi korban sindikat perdagangan orang di Arab Saudi. Perempuan yang baru sekitar empat bulan bekerja di Dammam itu kini dilaporkan berada dalam kondisi terancam dan tidak lagi dapat berkomunikasi secara wajar dengan pihak luar.
Korban diketahui berangkat ke Arab Saudi melalui agen yang berlokasi di Jakarta, dengan perantara seorang perempuan bernama Umi Azizah, yang bekerja sama dengan agen di Dammam bernama SRACO. SW berangkat menggunakan visa Sarika.
Selama berada di Arab Saudi, SW rutin berkomunikasi dengan rekannya sesama TKW inisial LA yang telah lebih dulu bekerja di sana melalui agensi berbeda. Hingga Kamis, 15 Januari 2026, komunikasi keduanya masih berjalan normal.
Justru pada hari tersebut LA mengunggah sebuah foto di akun Facebook miliknya yang kemudian direspons oleh SW dengan ikon menangis, disertai permintaan tolong agar dikeluarkan dari tempat kerjanya. Dalam percakapan itu, SW menyampaikan kalimat bernada putus asa yang mengindikasikan ia dipaksa menjadi pekerja seks dan tidak ingin melanjutkan kondisi tersebut.
SW juga mengungkapkan bahwa seluruh uangnya telah diambil, serta ia diawasi oleh sekelompok pria, salah satunya disebut sebagai warga Bangladesh yang tinggal di Riyadh. Para pelaku bahkan mengancam akan menyita telepon genggam SW dan memantau semua komunikasinya.
Percakapan kemudian berlanjut melalui WhatsApp. Kepada LA, SW menceritakan bahwa ia diajak kabur dari tempat kerjanya di Dammam oleh seorang TKW lain inisial EL dengan iming-iming pekerjaan di sebuah madrasah di Riyadh. EL bahkan menyewa seorang sopir untuk menjemput SW.
Namun, setibanya di Riyadh, SW menyadari telah ditipu. Pekerjaan yang dijanjikan tidak pernah ada. Sebaliknya, ia justru dipaksa bekerja sebagai pelacur, sementara EL diduga kuat merupakan bagian dari sindikat perdagangan perempuan yang beroperasi di wilayah Riyadh.
Dalam pengakuannya, SW sempat menyebut bahwa pada malam sebelum komunikasi terakhir, ia dibawa ke lokasi prostitusi di kawasan Central, Riyadh, dan dipaksa melayani tamu. Karena menolak, SW mengancam akan mengakhiri hidupnya. Setelah itu, ia kembali disekap di lokasi yang tidak diketahui, dijaga ketat oleh sejumlah pria.
SW sempat menyampaikan pesan terakhir kepada LA bahwa jika ia tidak lagi dapat dihubungi, maka nyawanya kemungkinan besar dalam bahaya. Ia juga mengirimkan lokasi berbagi (share location) sebelum komunikasi menjadi tidak normal.
Hingga Selasa, 20 Januari 2026, nomor WhatsApp SW masih aktif. Namun, menurut LA, pesan-pesan yang dikirimkan dari nomor tersebut tidak lagi mencerminkan gaya bahasa korban, melainkan terkesan kaku seperti hasil terjemahan otomatis. Upaya komunikasi menggunakan bahasa daerah Kaili juga tidak mendapat respons, menguatkan dugaan bahwa telepon korban telah dikuasai pihak lain.
Lebih mengkhawatirkan, akun WhatsApp dan media sosial SW dilaporkan mengirimkan foto-foto tidak pantas ke seluruh kontak, dengan narasi seolah-olah SW mengakui dirinya sebagai pekerja seks, yang diduga kuat merupakan upaya pembungkaman dan pengaburan kasus oleh pelaku.
Diketahui kasus ini telah mendapat atensi dari Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar, dan telah ditindaklanjuti.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu, Dapil Palu Utara, Vivi Irade, mengharapkan adanya tindakan dari aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk segera mengambil langkah cepat untuk menelusuri keberadaan korban dan membongkar jaringan yang terlibat.
“Saya meminta pemerintah pusat dan Perwakilan RI di Arab Saudi untuk segera memastikan keselamatan korban. Status korban sebagai PMI nonprosedural tidak boleh menjadi alasan pengabaian perlindungan negara. Saya akan mengawal kasus ini hingga ada kepastian hukum dan keselamatan WNI yang bersangkutan,” kata Vivi.*
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.








