Pertumbuhan Investasi Semester I Serap 19 Ribu Tenaga Kerja, Meningkat 22 Persen

waktu baca 2 menit
[radio_player id="2"]
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Tengah, Moh. Rifani, saat menjelaskan realisasi investasi semester I tahun 2026. (FOTO: Fahril/Infosulteng.id)

Palu – Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Tengah, Moh. Rifani, menjelaskan bahwa pertumbuhan investasi juga diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja.

Pada semester I 2026, investasi di Sulawesi Tengah menyerap 19.114 tenaga kerja Indonesia, meningkat 22,29 persen dibandingkan 15.630 orang pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nilai investasi yang sebesar 6,97 persen. Kondisi ini dinilai menunjukkan investasi yang masuk semakin berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja.

Selain realisasi investasi, DPMPTSP Sulawesi Tengah mencatat 53.364 permohonan perizinan berusaha melalui sistem Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS-RBA) sepanjang Januari-Juni 2026.

Dari jumlah tersebut, 71 persen atau 37.891 permohonan berasal dari pelaku usaha perseorangan. Sebanyak 72,47 persen izin terbit secara otomatis sesuai standar layanan, sedangkan 81,74 persen permohonan berada dalam kategori risiko rendah dan menengah rendah.

Dari sisi wilayah, Kota Palu menjadi daerah dengan jumlah permohonan perizinan terbanyak, yakni 12.723 permohonan atau 23,84 persen. Berikutnya Banggai Laut 6.875, Parigi Moutong 4.995, Banggai Kepulauan 4.821, dan Morowali 4.690 permohonan.

Rifani mengungkapkan bahwa realisasi investasi masih sangat terkonsentrasi di Kabupaten Morowali. Daerah tersebut mencatat investasi Rp65,87 triliun atau 95,88 persen dari total investasi Sulawesi Tengah.

Morowali Utara berada di posisi kedua dengan Rp1,06 triliun, disusul Banggai Rp786,46 miliar, Kota Palu Rp424,43 miliar, dan Sigi Rp207,02 miliar.

“Morowali masih yang tertinggi, kemudian Morowali Utara,” kata Rifani, Selasa, 1 September 2026 di Kantor DPMPTSP Sulteng.

Menurutnya, dominasi Morowali tidak terlepas dari aktivitas industri logam dasar dan pengolahan nikel yang berkembang di kawasan tersebut.

Meski investasi besar terkonsentrasi di Morowali, seluruh 13 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah tetap mencatat realisasi investasi pada semester I 2026.

Rifani juga menyoroti perbedaan capaian investasi antardaerah. Kabupaten Tojo Una-Una menjadi daerah dengan persentase capaian tertinggi, yakni 218,97 persen dari target investasi 2026.

Selain Tojo Una-Una, tiga daerah lainnya juga telah melampaui target tahunan sebelum semester pertama berakhir, yakni Buol sebesar 173,65 persen, Parigi Moutong 116,38 persen, dan Poso 110,70 persen.

Sebaliknya, Kabupaten Donggala baru mencapai 13,75 persen dari target Rp600 miliar. Banggai Kepulauan mencapai 16,14 persen, Morowali Utara 35,04 persen, dan Kota Palu 40,42 persen.

Rifani menilai Donggala sebenarnya memiliki potensi investasi yang cukup besar. Selain sektor pariwisata, wilayah tersebut memiliki peluang pengembangan perkebunan, termasuk komoditas kelapa.

“Donggala sebenarnya luas. Dia bisa perkebunan, termasuk kelapa,” ujarnya. RIL

Tinggalkan Balasan