Gubernur Sulteng: Festival Persahabatan Bukan Untuk Umum

waktu baca 2 menit
[radio_player id="2"]
Gubernur Sulteng, Rusdy Mastura, menemui massa aksi yang menolak Festival Persahabatan Palu di depan Gedung Pemprov Sulteng. (FOTO: ISTIMEWA)

INFOSULTENG.ID, Palu – Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura, menegaskan bahwa Festival Persahabatan yang digelar di Gedung Gelora Bumi Kaktus (GBK), Jalan Yos Sudarso, mulai Kamis, 30 Januari hingga Minggu, 2 Februari 2025, tidak akan dibuka untuk umum.

Kegiatan tersebut diperuntukkan khusus bagi umat Nasrani guna menghindari ketegangan di tengah masyarakat.

Pernyataan ini disampaikan Cudy sapaan akrab Rusdy Mastura saat bertemu perwakilan massa aksi yang menggelar demonstrasi di depan Kantor Gubernur Sulteng, Kamis (30/1).

Mereka memprotes sikap diam gubernur terhadap gelombang penolakan terhadap festival tersebut, terutama terkait kehadiran pendeta asal Kanada, Peter Youngren.

Cudy menegaskan bahwa dirinya tidak berpihak pada kelompok mana pun. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga harmoni antarumat beragama dan menghindari potensi gesekan yang bisa memperkeruh keadaan.

“Yang paling sensitif bagi umat Islam itu misi agama. Kita semua ingin menjaga toleransi, jadi mari kita rawat keharmonisan ini,” ujar Cudy.

Dia juga menegaskan bahwa Rasulullah hadir untuk memperbaiki akhlak, sehingga dalam menghadapi perbedaan, sebaiknya mengedepankan akhlak yang baik.

Cudy juga berencana memanggil panitia penyelenggara festival untuk memastikan bahwa acara tersebut hanya dihadiri oleh umat Nasrani sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati.

Sebelumnya, ratusan massa dari Aliansi Umat Islam dan Forum Umat Islam Sulteng turun ke jalan menuntut sikap tegas gubernur terkait Festival Persahabatan.

Penolakan ini semakin menguat setelah Peter Youngren dalam konferensi pers pada Rabu (29/1) malam menegaskan bahwa festival akan tetap dilaksanakan dan terbuka bagi semua kalangan, tanpa memandang suku, ras, atau agama.

Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran di kalangan umat Islam Sulteng. Mereka menilai bahwa festival ini bisa berdampak pada akidah umat Islam yang kurang kuat secara ekonomi maupun keimanan.

Dalam orasinya, Koordinator Lapangan Alif Veraldi menyoroti video yang beredar di mana Jacob Wendesten menyebut bahwa festival ini mendapat dukungan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta Alkhairaat organisasi Islam terbesar di Indonesia Timur. Namun, ia juga menyinggung adanya kelompok kecil yang disebut sebagai “radikal” yang menolak acara tersebut.

“Pernyataan itu justru memicu kegaduhan di masyarakat,” tegas Alif.

Dengan berbagai dinamika yang terjadi, keputusan gubernur untuk membatasi festival hanya untuk umat Nasrani diharapkan dapat meredam ketegangan dan menjaga ketertiban di Sulawesi Tengah.*

Tinggalkan Balasan