DPMPTSP Sulteng Ungkap Realisasi Investasi 2025 Tembus Rp127 Triliun dan Juara Hilirisasi Nasional
Palu – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) terus memperkuat iklim investasi daerah melalui kemudahan perizinan dan strategi pengembangan sektor unggulan.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulteng, Moh. Rifani Pakamundi, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha untuk berinvestasi di daerah ini.
“Ini dalam rangka memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha untuk berinvestasi di Sulawesi Tengah,” ujar Rifani.
Langkah tersebut dijalankan melalui program prioritas “Berani Harmoni”, bagian dari sembilan program unggulan Gubernur Sulawesi Tengah yang tertuang dalam RPJMD. Program ini berfokus pada peningkatan kualitas layanan perizinan dan kemudahan berusaha.
Salah satu implementasi nyata adalah pelayanan Nomor Induk Berusaha (NIB) kepada masyarakat. Dengan NIB, pelaku usaha dapat memperoleh legalitas usaha secara cepat, sehingga membuka peluang lahirnya lebih banyak wirausaha baru di Sulteng.
Tak hanya sektor pertambangan, DPMPTSP juga mulai mendorong investasi di sektor pertanian dan perkebunan, yang dinilai memiliki potensi besar dalam memperkuat ekonomi daerah.
Upaya ini berbanding lurus dengan capaian investasi Sulawesi Tengah yang semakin menguat di tingkat nasional.
Berdasarkan rilis resmi BKPM tahun 2025, total realisasi investasi di Sulawesi Tengah mencapai Rp127,2 triliun, atau berkontribusi sebesar 6,6 persen terhadap realisasi investasi nasional.
Capaian ini menempatkan Sulawesi Tengah sebagai peringkat 1 Nasional di sektor hilirisasi dengan nilai investasi Rp110 triliun. Peringkat 2 Nasional dalam Penanaman Modal Asing (PMA) setelah Jawa Barat. Peringkat 5 Nasional untuk total investasi gabungan PMA dan PMDN.
“Sulawesi Tengah kini menjadi juara realisasi investasi di luar Pulau Jawa,” kata Rifani.
Untuk proyek strategis seperti Floating Storage Regasification Unit (FSRU), Sulawesi Tengah bahkan menempati posisi nomor satu di luar Jawa. Selain itu, daerah ini juga menjadi yang teratas dalam hilirisasi industri logam dasar, menunjukkan bahwa investasi tak lagi hanya fokus pada eksploitasi tambang, tetapi juga pada industri pengolahan bernilai tambah.
Sebagian besar investasi diserap oleh sektor industri logam dasar di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, terutama di kawasan industri seperti IMIP dan GNI/SEI. Industri tersebut kini bergerak menuju pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV).
Di sisi lain, KEK Palu mulai berperan sebagai pusat logistik dan industri penunjang di wilayah barat Sulawesi Tengah, sementara hilirisasi non-tambang di sektor perkebunan dan lumbung pangan Donggala mulai dikembangkan sebagai penopang kebutuhan nasional dan IKN.
Meski target investasi nasional tahun 2025 sebesar Rp162,57 triliun belum tercapai sepenuhnya, Sulawesi Tengah tetap mampu merealisasikan 78,2 persen dari target tersebut, sekaligus berkontribusi dalam mendorong investasi luar Jawa mencapai 51,3 persen.
Semua capaian ini merupakan bagian dari visi besar pembangunan daerah “SULTENG NAMBASO”, yakni menjadikan Sulawesi Tengah sebagai wilayah pertanian dan industri yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
“Seluruh program kami arahkan untuk mewujudkan Sulawesi Tengah yang lebih maju, seimbang, dan berdaya saing,” tutup Rifani.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.









