Mengenal El Nino dan Dampaknya Bagi Sulawesi Tengah

waktu baca 5 menit
Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri - Poso, BMKG Sulawesi Tengah, Asep Firman Ilahi, saat diwawancara di ruang kerjanya terkait fenomena El Nino. (FOTO: INFOSULTENG.ID/FAHRIL)

Palu – Isu mengenai kemunculan “El Nino Godzilla” belakangan mulai ramai dibicarakan di media sosial dan ruang publik. Istilah itu memunculkan kekhawatiran akan ancaman kekeringan ekstrem, gagal panen, hingga krisis air bersih di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Tengah (Sulteng)

El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia.

Menurut Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri-Poso, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulteng, Asep Firman Ilahi, istilah “El Nino Godzilla” sebenarnya tidak dikenal dalam dunia meteorologi.

Istilah tersebut hanyalah sebutan populer yang berkembang di masyarakat dan media massa untuk menggambarkan El Nino dengan dampak yang dianggap sangat besar.

“Dalam BMKG, kami hanya mengenal empat kategori El Nino, yaitu lemah, moderat, kuat, dan sangat kuat,” ujar Asep di ruang kerjanya, Jumat sore, 8 Mei 2026.

Asep menilai penggunaan istilah seperti “Godzilla” justru berpotensi memicu kepanikan di masyarakat. Kekhawatiran berlebihan dapat memicu dampak lanjutan, mulai dari penimbunan bahan pangan hingga lonjakan harga kebutuhan pokok.

Padahal, kata dia, kondisi El Nino di Sulteng saat ini masih berada pada fase yang relatif terkendali, meskipun tetap harus diantisipasi.

El Nino Mulai Terbentuk

BMKG mulai memantau indikasi El Nino sejak Februari 2026. Pada saat itu, kondisi iklim global masih berada pada fase netral. Namun memasuki Maret hingga April, tanda-tanda pergeseran menuju El Nino mulai terlihat.

“Pada Mei ini kami prediksi 100 persen sudah masuk fase El Nino lemah. Bahkan ada peluang sekitar 94 persen berkembang menjadi El Nino moderat,” jelas Asep.

Meski demikian, dampaknya tidak terjadi secara tiba-tiba. Wilayah Sulteng memiliki karakter geografis yang kompleks sehingga pengaruh El Nino berlangsung bertahap dan tidak merata di seluruh wilayah.

Di satu sisi, sejumlah daerah mulai mengalami musim kemarau. Namun di sisi lain, beberapa wilayah masih diguyur hujan.

“Morowali, Morowali Utara, dan beberapa wilayah di Poso masih mengalami hujan sampai sekarang,” katanya.

Lembah Palu dan Fenomena Hujan Bayangan

Salah satu karakter unik iklim Sulteng terlihat di kawasan Lembah Palu. Wilayah ini dikenal memiliki fenomena hujan bayangan atau rain shadow yang membuat curah hujan relatif rendah sepanjang tahun.

Menurut BMKG, suatu wilayah dikatakan memasuki musim hujan apabila curah hujannya mencapai lebih dari 50 milimeter per dasarian atau 10 hari, lalu berlanjut dalam dua dasarian berikutnya. Namun kondisi itu hampir tidak pernah terjadi di Kota Palu dan sekitarnya.

“Dalam satu tahun ada 36 dasarian, tetapi tidak ada satu pun dasarian di Kota Palu yang curah hujannya melampaui 50 milimeter,” kata Asep.

Karena itu, wilayah Lembah Palu seperti Kota Palu, Biromaru, Banawa, Donggala, hingga sebagian Parigi Moutong dikategorikan hanya memiliki satu musim dominan, yakni musim kemarau.

Sebaliknya, kawasan seperti Pipikoro, Kulawi, dan Lore Selatan justru mengalami musim hujan hampir sepanjang tahun. Kondisi ini dipengaruhi bentang pegunungan dan keberadaan kawasan Taman Nasional Lore Lindu yang berfungsi sebagai pengontrol hidrologi alami.

Wilayah yang Mulai Mengering

BMKG mencatat beberapa wilayah Sulawesi Tengah mulai memasuki musim kemarau lebih awal pada Mei 2026. Daerah tersebut antara lain Buol, Tolitoli, Parigi Moutong, Donggala, sebagian Sigi, Tojo Una-Una, hingga Banggai.

Sementara wilayah seperti Morowali, Morowali Utara, Banggai Laut, Banggai Kepulauan, dan sebagian Poso masih berada pada fase musim hujan.

Secara keseluruhan, sekitar 69 persen wilayah Sulawesi Tengah diprediksi mengalami musim kemarau lebih awal dibanding kondisi normal.

Tidak hanya itu, sekitar 52 persen wilayah diperkirakan memiliki curah hujan di bawah normal atau lebih kering dibanding tahun-tahun sebelumnya.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan mulai terjadi pada Juli di sebagian kecil wilayah, lalu meluas pada Agustus, dan mencapai puncaknya pada September hingga Oktober 2026.

“September dan Oktober nanti diprediksi menjadi fase paling kritis,” ujar Asep.

Ancaman Kekeringan dan Karhutla

Kondisi tersebut berpotensi memicu kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah rawan seperti Poso dan Banggai.

BMKG bahkan telah mendorong pemerintah daerah untuk menetapkan status siaga kekeringan agar langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat.

Selain itu, pemerintah juga diminta mempercepat masa tanam padi di wilayah rawan kekeringan sebelum puncak kemarau tiba.

BMKG juga mengimbau masyarakat mulai menghemat penggunaan air tanah dan memanfaatkan air hujan yang masih turun pada Mei hingga Juni.

“Kita harus mulai bijak menggunakan air. Ketika masih ada hujan, airnya perlu ditampung untuk persiapan menghadapi musim kemarau,” kata Asep.

Menurut Asep, ancaman lain yang perlu diwaspadai adalah penurunan debit air tanah akibat penggunaan berlebihan, terutama di Kota Palu.

Dia bahkan mengusulkan pembatasan penggunaan air tanah bagi sektor industri dan pertambangan karena dikhawatirkan memicu intrusi air laut ke sumur warga.

“Kalau air tanah terus dieksploitasi saat kemarau, nanti air laut bisa masuk dan membuat air sumur menjadi asin,” ujarnya.

El Nino Tidak Selalu Buruk

Di balik ancaman kekeringan, BMKG juga melihat El Nino membawa sejumlah peluang ekonomi bagi Sulawesi Tengah. Musim kemarau yang lebih panjang dinilai dapat meningkatkan produksi garam karena intensitas penyinaran matahari menjadi lebih tinggi.

Tidak hanya itu, sejumlah komoditas buah seperti mangga, anggur, dan durian diprediksi memiliki kualitas lebih baik selama musim kemarau.

“Buah biasanya jadi lebih manis karena kandungan airnya berkurang,” kata Asep.

Fenomena El Nino juga memicu proses upwelling, yakni naiknya massa air laut kaya nutrisi ke permukaan. Kondisi ini membuat populasi ikan seperti tuna dan tongkol diperkirakan meningkat di sejumlah perairan Sulawesi Tengah.

Wilayah Donggala, Tolitoli, Banggai, Banggai Laut, hingga Morowali diprediksi menjadi kawasan potensial panen ikan selama musim kemarau.

Karena itu, pemerintah daerah juga diminta menyiapkan fasilitas pendukung seperti cold storage dan ketersediaan BBM bersubsidi bagi nelayan.

“Jangan sampai ikan melimpah, tetapi akhirnya busuk karena tidak ada fasilitas penyimpanan,” ujar Asep.

Momentum Pariwisata Bahari

Selain sektor perikanan, musim kemarau juga dinilai menjadi momentum terbaik bagi sektor pariwisata Sulawesi Tengah.

Perairan di kawasan Togean, Banggai Kepulauan, hingga sejumlah spot wisata bahari lainnya diprediksi lebih jernih dibanding biasanya.

Kondisi ini dapat menjadi daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara, terutama bagi pecinta wisata selam dan wisata bahari. Laut biasanya jauh lebih jernih saat musim kemarau.

“Ini peluang besar untuk pariwisata,” tutur Asep

BMKG pun menegaskan bahwa El Nino tidak semata-mata harus dipandang sebagai ancaman bencana. Dengan mitigasi yang tepat dan kesiapan pemerintah, fenomena ini juga dapat menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat Sulawesi Tengah. RIL

Tinggalkan Balasan