Realisasi Investasi Sulteng 2025 Tembus Rp97,61 Triliun, Serap 22 Ribu Tenaga Kerja

waktu baca 3 menit
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulteng, Moh. Rifani Pakamundi, S.Sos., M.Si., saat menjelaskan capaian investasi di Sulawesi Tengah. (FOTO: INFOSULTENG.ID/FAHRIL)

Palu – Realisasi investasi di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) sepanjang Januari hingga September 2025 mencapai Rp97,61 triliun. Capaian tersebut menempatkan Sulteng tetap sebagai salah satu daerah dengan kinerja investasi tertinggi secara nasional, dengan sektor industri logam dasar masih menjadi penopang utama.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulteng, Moh. Rifani Pakamundi, S.Sos., M.Si., mengungkapkan bahwa capaian tersebut merupakan realisasi hingga triwulan III tahun 2025.

“Dalam tiga tahun terakhir, sektor industri logam dasar selalu menjadi penyumbang terbesar realisasi investasi di Sulawesi Tengah. Disusul oleh industri kimia dan farmasi,” ujar Rifani di ruang kerjanya, Rabu, 31 Desember 2025.

Rifani menjelaskan, dalam lima tahun terakhir realisasi investasi Sulteng selalu melampaui target nasional. Pada tahun 2024, realisasi investasi bahkan menembus Rp131 triliun, menempatkan Sulawesi Tengah di peringkat keempat nasional dan konsisten masuk lima besar nasional.

Untuk tahun 2025, pemerintah pusat menetapkan target yang cukup ambisius, yakni Rp160 triliun. Realisasi akhir tahun masih menunggu laporan resmi pelaku usaha yang akan ditutup pada pertengahan Januari 2026.

“Kenaikan target ini memang cukup tinggi, tetapi kami optimistis bisa mendekati bahkan mencapai target tersebut,” kata Rifani.

Dari total realisasi Rp97,61 triliun hingga September 2025, Penanaman Modal Asing (PMA) masih mendominasi dengan nilai Rp91,32 triliun atau 93,6 persen, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) baru mencapai Rp6,28 triliun atau 6,4 persen.

“PMDN memang masih relatif kecil. Ini menjadi pekerjaan rumah kami agar ke depan investasi dalam negeri bisa lebih maksimal,” ujarnya.

Investasi yang masuk ke Sulawesi Tengah sepanjang 2025 juga berdampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Tercatat sebanyak 22.329 tenaga kerja Indonesia terserap, dengan sektor industri logam dasar menjadi penyumbang terbesar, yakni sekitar 9.196 orang.

Sektor lain yang turut menyerap tenaga kerja adalah industri kimia, farmasi, dan pertambangan.

Secara kewilayahan, Rifani menjelaskan Kabupaten Morowali masih menjadi daerah dengan kontribusi investasi terbesar di Sulawesi Tengah, mencapai sekitar Rp83,17 triliun. Posisi kedua ditempati Morowali Utara dengan Rp19,13 triliun, disusul Kabupaten Banggai sebesar Rp2,19 triliun.

Meski untuk PMA saat ini berada di peringkat kedua nasional di bawah Jawa Barat, Rifani menegaskan bahwa Sulawesi Tengah menempati peringkat pertama nasional untuk investasi hilirisasi pada 2025.

Namun demikian, ia mengakui adanya tantangan global yang memengaruhi laju investasi, seperti penurunan harga dan permintaan nikel, serta peralihan teknologi baterai kendaraan listrik dari berbasis nikel (NMC) ke teknologi LFP yang tidak menggunakan nikel.

“Selain itu, banyak proyek besar kita sudah masuk tahap produksi. Sementara nilai investasi terbesar dihitung saat fase pembangunan awal,” jelasnya.

Ke depan, Rifani menegaskan Sulawesi Tengah tidak bisa terus bergantung pada nikel mentah. Pemerintah daerah kini mendorong transformasi investasi menuju hilirisasi 2.0, termasuk pengembangan hilirisasi hijau dan klaster baterai kendaraan listrik di kawasan IMIP senilai sekitar US$3 miliar, dan diversifikasi investasi ke sektor agribisnis dan peternakan, termasuk peternakan sapi dari Vietnam, serta pengembangan hilirisasi kelapa di Morowali dengan target hingga 500 juta butir per tahun.

“Investasi Sulawesi Tengah tahun 2025 berada pada fase konsolidasi dan pendewasaan. Penurunan tipis yang terjadi masih wajar dalam kondisi pasar global, namun fundamental ekonomi kita tetap kuat dan menjadi yang terkuat di kawasan Indonesia Timur,” tandas Rifani. RIL

Tinggalkan Balasan