25 Titik Wilayah di Sulteng Alami Kekeringan Ekstrem

waktu baca 3 menit
[radio_player id="2"]
Kantor BMKG, Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri-Poso, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulteng. (FOTO: Fahril/Infosulteng.id)

Palu — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah yang mengalami hari tanpa hujan (HTH) berturut-turut hingga mendekati 60 hari.

Kondisi tersebut masuk dalam kategori sangat panjang (very long), yakni wilayah yang mengalami 31–60 hari tanpa hujan. Sementara, jika periode tanpa hujan telah melampaui 60 hari, wilayah tersebut masuk kategori kekeringan ekstrem.

Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri-Poso, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulteng, Asep Firman Ilahi, menjelaskan, berdasarkan peta monitoring HTH per 31 Agustus 2026, wilayah dengan periode tanpa hujan panjang tersebar di sejumlah daerah, mulai dari Tojo Una-Una, Buol, Parigi Moutong, Tolitoli, Palu dan Donggala, Poso, Morowali Utara hingga wilayah Banggai, termasuk Banggai Laut.

“Yang warna pink ini yang sangat panjang, sampai dua bulan tidak ada hujan. Ini yang menjadi fokus,” ujar Asep, Kamis 3 September 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut masih berpotensi meluas apabila hujan belum turun secara signifikan dalam beberapa waktu ke depan. Bahkan, titik yang saat ini masuk kategori sangat panjang dapat berubah menjadi kekeringan ekstrem apabila hari tanpa hujan melewati 60 hari.

“Yang pink ini bisa bertambah dan mungkin ada yang sampai ke titik merah,” kata Asep.

BMKG menjelaskan, monitoring HTH merupakan pemantauan terhadap jumlah hari berturut-turut ketika suatu wilayah tidak mendapatkan hujan signifikan.

Suatu hari masih dikategorikan sebagai hari tanpa hujan apabila curah hujan yang tercatat kurang dari 0,5 milimeter. Jika hujan mencapai lebih dari 0,5 milimeter, meskipun hanya 0,6 milimeter, hitungan HTH akan kembali ke nol.

“Untuk pantauan yang sampai pink, sampai dua bulan, artinya memang di wilayah itu tidak ada hujan yang lebih dari 0,5 milimeter,” jelasnya.

Curah hujan sebesar 0,5 milimeter juga dinilai sangat rendah sehingga belum cukup untuk memberikan suplai air yang berarti ke tanah maupun meningkatkan cadangan air tanah.

Kondisi berkepanjangan tanpa hujan tersebut disebut sebagai kekeringan meteorologis, yakni kondisi ketika suatu wilayah mengalami kekurangan curah hujan dalam periode tertentu.

Monitoring HTH tersebut diperbarui BMKG secara berkala setiap 10 hari. Data itu menjadi salah satu instrumen penting dalam memantau perkembangan kekeringan hidrometeorologis di Sulawesi Tengah.

Informasi tersebut juga penting bagi sektor pertanian, terutama petani yang mengandalkan curah hujan atau petani tadah hujan.

“Ini juga sebagai alat efektif untuk pemantauan kekeringan hidrometeorologis. Beberapa wilayah, seperti petani-petani, sangat mengandalkan ini, terutama petani tadah hujan,” ujarnya.

Salah satu wilayah yang sebelumnya dilaporkan mengalami dampak kekeringan cukup panjang adalah Parigi Moutong. Sejumlah petani di daerah tersebut disebut mengalami gagal tanam dan gagal panen setelah tidak mendapatkan hujan selama sekitar dua bulan.

Tanaman yang telah ditanam sebagian mengalami kematian, sementara tanaman yang mendekati masa panen tidak menghasilkan secara optimal.

Pembaruan tersebut akan menjadi indikator apakah jumlah titik dengan HTH panjang bertambah atau terdapat wilayah yang telah masuk kategori kekeringan ekstrem.

“Menunggu update saja lagi, update di tanggal 11,” katanya.

Sebaran titik pink paling banyak terdapat di Tolitoli dan Poso, masing-masing 4 titik. Setelah itu Banggai, Buol, dan Tojo Una-Una masing-masing memiliki 3 titik.

Artinya, berdasarkan peta BMKG tersebut, terdapat 25 titik di Sulteng yang masuk kategori 31–60 hari tanpa hujan berturut-turut per 31 Agustus 2026.

Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mengalami dua kejadian cuaca ekstrem sepanjang Agustus, yakni kekeringan dan kebasahan.

Kekeringan tercatat melanda Kecamatan Mepanga, Bolano Lambunu, dan Moutong. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu ketersediaan air bersih serta aktivitas pertanian masyarakat.

Sementara itu, kejadian kebasahan terjadi di Kecamatan Parigi Tengah, Parigi Utara, Siniu, dan Ampibabo. Kondisi kebasahan umumnya berkaitan dengan curah hujan tinggi yang dapat meningkatkan risiko genangan, banjir, maupun longsor.

Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak cuaca ekstrem di Kabupaten Parigi Moutong tidak terjadi secara merata. Karena itu, penanganan perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap wilayah, baik melalui pemenuhan kebutuhan air di daerah terdampak kekeringan maupun kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di daerah yang mengalami kebasahan. RIL

Tinggalkan Balasan