Palu – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Datokarama Palu resmi meluncurkan buku berjudul “Membangun Sigi di Antara Dua Bencana: Percikan Pemikiran dan Kerja Nyata Muhammad Irwan Lapatta” pada Rabu, 10 Desember 2025.
Acara yang digelar di salah satu hotel di Kota Palu itu dihadiri oleh mantan Bupati Sigi Mohamad Irwan Lapatta, perwakilan Pemda Sigi, Dinas Pendidikan, Forkopimda, tokoh pemuda, mahasiswa, dan sejumlah lembaga terkait.
Buku tersebut merekam perjalanan hampir satu dekade kepemimpinan Irwan Lapatta, mulai dari perumusan arah pembangunan, dinamika sosial, hingga dua ujian besar yang mengguncang Kabupaten Sigi yaitu gempa dan likuifaksi 2018 serta pandemi Covid-19 pada periode kedua masa jabatannya.
Irwan, yang lahir di Palu pada 19 September 1968, merupakan politisi Partai Golkar yang menorehkan dua periode kepemimpinan sebagai Bupati Sigi. Pada periode pertama ia berpasangan dengan Paulina Lallo, dan pada periode kedua bersama Samuel Yansen Pongi dengan raihan 77.376 suara atau 55,60 persen.
Kiprahnya diperkuat oleh rekam jejak pendidikan di Palu serta aktivitas organisasi yang luas, mulai dari Kosgoro 1957, Formasi, NU Sigi, hingga dukungan terhadap Alkhairaat.
Sebagai salah satu tokoh penting pemekaran Kabupaten Sigi, Irwan bersama sejumlah tokoh lokal turut menginisiasi Forum Komunikasi Pemekaran Kabupaten Sigi, yang menjadi cikal bakal terwujudnya daerah otonom tersebut.
Tantangan besar melanda Sigi saat bencana 2018 terjadi, menghancurkan lebih dari 40 persen infrastruktur. Pada periode berikutnya, pandemi Covid-19 kembali menuntut kepemimpinan responsif dan adaptif.
Buku ini menggambarkan bagaimana Irwan menerapkan kepemimpinan situasional dan inovatif melalui berbagai program seperti Sigi Massagena, Sigi Religi, Sigi Hijau, hingga terobosan sosial-ekonomi berbasis kebutuhan masyarakat.
Ketua LPPM UIN Datokarama, Dr. Sahran Raden, menegaskan bahwa buku tersebut bukan untuk mengultuskan seorang tokoh, melainkan mendokumentasikan gagasan dan program yang memberi dampak nyata bagi masyarakat Sigi.
“Kami mencatat jejak gagasan beliau, khususnya program harmoni sosial yang efektif meredam konflik antar desa. Buku ini tidak sedang membangun sosok pribadi, tetapi mendokumentasikan kiprah pemerintahan dan sosial selama hampir satu dekade,” ujar Sahran.
Dia menambahkan bahwa buku ini juga memuat uraian program unggulan yang telah menjadi payung kebijakan daerah. Sahran berharap tradisi penulisan seperti ini terus berkembang di Sulawesi Tengah untuk memperkaya referensi pembangunan daerah.
Dalam sambutannya, Irwan Lapatta mengisahkan awal motivasinya mencalonkan diri sebagai bupati, yang berangkat dari keresahan warga terkait akses pendidikan dan kesehatan. Ia menyampaikan terima kasih kepada akademisi UIN Datokarama yang mengabadikan perjalanan kepemimpinannya dalam bentuk buku.
“Saya berharap buku ini bukan hanya catatan sejarah, tetapi menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya. Kita harus membangun daerah dari keberpihakan kepada masyarakat yang paling membutuhkan. Semoga Sigi terus tumbuh sebagai daerah yang kuat dan tangguh,” ujar Irwan.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Pemda Sigi, Anwar, turut memberikan apresiasi atas penyusunan buku yang mulai dikerjakan sejak akhir 2024 tersebut. Ia berharap buku ini dapat dipelajari oleh pelajar di Sigi.
“Anak-anak kita harus mengetahui sejarah perjalanan Kabupaten Sigi dari masa ke masa. Buku ini memberi pesan penting bahwa bencana dapat menghancurkan banyak hal, tetapi kekuatan bersama dapat membangun kembali segalanya,” katanya.
Buku ini diharapkan menjadi rujukan baru bagi pembangunan Sigi serta inspirasi bagi para pemimpin masa depan. RIL