Ini Keterangan Saksi dan Polisi dalam Kasus Pembunuhan di Kelurahan Duyu

waktu baca 4 menit
Kasatreskrim Polresta Palu, AKP Ismail Bobby, saat memberikan pernyataan terkait peristiwa pembunuhan di Kelurahan Duyu. (FOTO: ISTIMEWA)

Palu – Polisi masih memburu terduga pelaku pembunuhan sadis yang menewaskan seorang pria bernama Jamil dan anaknya yang berusia dua tahun di sebuah rumah yang juga menjadi lokasi usaha rumah potong ayam di Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Minggu (26/7).

Sementara itu, istri korban, Nur Hanisah, masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara akibat luka-luka yang dideritanya.

Kasatreskrim Polresta Palu, AKP Ismailbobby, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan keterangan para saksi, peristiwa berdarah itu bermula ketika tetangga korban mendengar keributan dari dalam rumah sekitar pukul 22.00 Wita.

AKP Ismailbobby mengatakan, berdasarkan penyelidikan sementara, anak korban diduga tidak meninggal akibat luka senjata tajam. Polisi masih mendalami penyebab pasti kematian balita tersebut, termasuk dugaan korban mengalami kekerasan dengan cara lain.

“Penyebab pastinya masih dalam proses penyelidikan,” ujar Ismail.

Polisi juga telah mengantongi identitas terduga pelaku berinisial AK. Saat ini Tim Jatanras Polresta Palu yang dipimpin Iptu Rastra bersama Kanit Reskrim Polsek Palu Selatan, Iptu Rido, masih melakukan pengejaran.

Ismail mengungkapkan, berdasarkan keterangan istri korban, identitas yang beredar di media sosial mengarah kepada orang yang saat ini diburu polisi.

Ia mengimbau masyarakat yang mengetahui keberadaan terduga pelaku agar segera melaporkannya kepada Polresta Palu.

Terkait motif pembunuhan, AKP Ismail menyebut penyidik masih terus melakukan pendalaman karena pelaku belum berhasil ditangkap.

Dari hasil penyelidikan sementara diketahui bahwa pada sore sebelum kejadian, korban Jamil bersama pemilik rumah potong ayam sempat mengambil sepeda motor di rumah terduga pelaku. Namun hingga kini belum diketahui hubungan peristiwa tersebut dengan aksi pembunuhan yang terjadi pada malam harinya.

Polisi juga meluruskan informasi yang beredar mengenai hubungan korban dan pelaku. Menurut Ismail, keduanya bukan memiliki hubungan keluarga secara langsung, melainkan hanya bekerja di tempat pemotongan ayam yang sama dan berasal dari kampung yang sama.

Selain itu, pemilik usaha rumah potong ayam diketahui masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga korban, sedangkan ibu terduga pelaku juga berasal dari kampung yang sama. Hingga kini, polisi masih terus mengumpulkan alat bukti dan memburu terduga pelaku guna mengungkap motif pasti di balik pembunuhan tersebut.

Salah seorang saksi, Bahtiar, bersama Ketua RT setempat, Nur Hamid, mendengar suara seorang perempuan meminta pertolongan. Saksi juga mengaku mendengar ancaman dari dalam rumah.

“Kalau kau besar suaramu, saya bunuh juga kau,” demikian kalimat yang didengar saksi dan diduga ditujukan kepada Nur Hanisah.

Menurut Ismail, dugaan sementara menunjukkan bahwa sebelum suara keributan terdengar, pelaku telah lebih dahulu menganiaya Jamil hingga meninggal dunia akibat beberapa luka tusuk.

Bahtiar menuturkan, awalnya ia mengira suara yang terdengar berasal dari anak-anak yang masih bermain di sekitar rumah. Namun tidak lama kemudian ia mendengar jeritan seorang perempuan yang memohon pertolongan.

“Tolong saya… jangan bunuh saya,” ujar Bahtiar menirukan suara yang didengarnya.

Mendengar teriakan tersebut, ia langsung menuju rumah korban. Dari balik pintu, ia kembali mendengar tangisan anak kecil serta suara perempuan yang meminta agar tidak dibunuh.

Awalnya Bahtiar mengira hanya terjadi pertengkaran rumah tangga. Namun situasi berubah ketika ia mendengar suara orang mengerang disusul ucapan yang diduga dilontarkan pelaku.

“Kasih itu… saya bunuh itu,” kata Bahtiar menirukan suara yang didengarnya dari dalam rumah.

Tak lama kemudian terdengar lagi suara perempuan memohon, “Jangan bunuh saya… jangan bunuh anak saya,” sebelum akhirnya terdengar jeritan kesakitan yang diduga terjadi saat korban ditusuk.

Merasa situasi semakin gawat, Bahtiar segera menghubungi rekan-rekannya yang bertugas di kepolisian. Ia bahkan sempat mengambil palu untuk membongkar pintu rumah, namun diurungkan setelah diminta menunggu Ketua RT datang.

“Saya bilang, kalau kita terlambat pasti ada korban di dalam,” katanya.

Sekitar 15 menit setelah pertama kali mendengar jeritan minta tolong, Bahtiar bersama Ketua RT dan beberapa warga akhirnya berhasil masuk ke dalam rumah. Saat itu, kondisi rumah sudah dipenuhi darah.

Jamil ditemukan terlentang di dekat pintu masuk dengan luka tusuk yang sangat parah. Menurut Bahtiar, luka di bagian perut korban hingga menyebabkan usus keluar.

Sementara itu, Nur Hanisah ditemukan di atas tempat tidur dalam keadaan terluka namun masih sadar. Anak mereka berada di samping ibunya dalam posisi tengkurap.

Bahtiar mengatakan Nur Hanisah masih sempat berbicara kepadanya.

“Tolong anak itu… masih hidup,” ucap korban.

Ia kemudian membalikkan posisi anak tersebut yang masih menangis dan meminta bantuan warga untuk mencari pelaku ke arah belakang rumah. Namun pelaku sudah lebih dahulu melarikan diri. RIL

Tinggalkan Balasan