HIV di Sulteng Diperkirakan Tembus 720 Kasus, Kota Palu Urutan Teratas

waktu baca 3 menit
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), dr. Jumriani, saat menjelaskan kasus malaria di Kabupaten Parigi Moutong. (FOTO: ISTIMEWA)

Palu – Kasus Human Immunodeficiency Virus atau HIV di Sulawesi Tengah (Sulteng) menunjukkan tren peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulteng, dr. Jumriani, mengungkapkan bahwa hingga Oktober 2025 jumlah temuan kasus sudah mencapai 658 kasus, dan diperkirakan akan terus meningkat hingga 710–720 kasus pada akhir tahun 2025.

“Jumlah ini kemungkinan besar akan melampaui temuan tahun 2024,” ujar dr. Jumriani, di ruang kerjanya, Kamis, 11 Desember 2025.

Sementara itu, dr. Jumriani merinci bahwa peningkatan juga terlihat jelas di Kota Palu. Pada 2023 tercatat 245 kasus, naik menjadi 326 kasus pada 2024, dan mencapai 283 kasus hingga Oktober 2025. Tiga daerah dengan temuan kasus tertinggi tetap konsisten setiap tahun yaitu Kota Palu, Morowali, dan Banggai.

Untuk Morowali, jumlah kasus terus meningkat yakni 62 kasus (2023), 80 kasus (2024), dan 73 kasus hingga Oktober 2025. Jumlah tersebut hampir dipastikan kembali melampaui tahun sebelumnya. Sementara Banggai menunjukkan pola serupa, sedangkan Bangkep dan Balut mencatat kurang dari 20 kasus per tahun. Menurutnya, tingginya mobilitas penduduk, terutama pendatang, berkontribusi pada peningkatan jumlah kasus.

“Transportasi dan mobilitas makin lancar, sehingga potensi penularan juga meningkat,” jelasnya.

dr. Jumriani menegaskan bahwa data pasien HIV sangat dilindungi dan tidak dapat diakses sembarangan. Hal ini untuk mencegah stigma dan diskriminasi yang sering dialami pengidap HIV.

Data by name, by address tidak boleh dibuka. Mereka sangat takut dikucilkan. Padahal HIV adalah penyakit yang justru paling sulit penularannya,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa HIV sangat sulit menular melalui air liur, bekas minuman, atau sentuhan. Penularan seringkali terjadi melalui jarum suntik, hubungan seksual tidak aman, atau transfusi darah. Bahkan hubungan antar sesama jenis merupakan penularan HIV dengan tingkat resiko yang tinggi.

Dinkes Sulteng melakukan penanganan berbasis wilayah melalui fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk. Pemeriksaan viral load tergantung wilayah dilakukan secara rutin setiap bulan dan biasanya berbarengan dengan pengambilan obat Antiretroviral atau ARV.

“Setiap kabupaten/kota sudah punya tempat pengambilan obat. Pasien rutin dipantau viral load-nya,” jelas dr. Jumriani.

Terkait sumber penularan, dr. Jumriani menjelaskan adanya populasi kunci kelompok yang pola interaksinya mudah dilacak, misalnya kelompok tertentu. Namun penularan yang sulit dikendalikan justru berasal dari pendatang atau individu yang tidak menetap di satu tempat. dr. Jumriani mengingatkan masyarakat sehat untuk menjaga perilaku seksual yang aman.

“Minimal gunakan kondom. Tapi yang terbaik adalah menghindari seks bebas,” tuturnya.

Dia menambahkan bahwa HIV masih mudah untul ditangani sebelum berkembang menjadi AIDS. Namun jika sudah mencapai stadium AIDS, daya tahan tubuh hilang total dan berpotensi fatal.

“Sekitar 80–90 persen pasien AIDS meninggal karena tubuh tidak mampu melawan penyakit apa pun,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan kekhawatiran meningkatnya kasus HIV pada remaja. Bahkan kata dia, pernah ada kasus pada anak usia 12–14 tahun, baik karena penularan dari ibu saat hamil maupun pergaulan bebas.

“Ada pasien saya umur 20 tahun yang kemungkinan sudah tertular sejak usia 15 tahun. Ini sangat mengkhawatirkan,” tandasnya. RIL

Tinggalkan Balasan