Tragis, Pekerja PETI Poboya Tewas Tertimpa Material

waktu baca 3 menit
Gambar hanya ilustrasi. (FOTO: ISTIMEWA)

Palu – Kecelakaan kerja kembali merenggut nyawa di kawasan Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Poboya, Kota Palu. Seorang pekerja tambang dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan fatal di lokasi Vavolapo, Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 07.15 Wita.

Korban diketahui berinisial SD (42), warga Kelurahan Buluri, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu. Informasi yang diperoleh media ini menyebutkan, saat kejadian korban tengah melakukan pengambilan material dengan cara bergantungan menggunakan tali di area tambang ilegal tersebut.

Namun nahas, material dari bagian atas tebing tiba-tiba runtuh dan menimpa korban. Akibatnya, SD terjatuh dari ketinggian sekitar 30 meter. Pada saat bersamaan, sebuah alat breker tangan yang berada di atas lokasi kerja ikut terjatuh dan menghantam bagian leher korban.

“Benturan keras menyebabkan korban mengalami luka parah di bagian belakang kepala hingga pecah, serta patah tulang leher,” ungkap seorang sumber di lokasi kejadian.

Rekan-rekan korban sempat melakukan evakuasi dengan menggunakan mobil pick up dan membawa jenazah ke rumah duka. Setelah disemayamkan di rumah kakaknya, korban dimakamkan pada hari yang sama sekitar pukul 15.35 Wita di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Buluri, Kecamatan Ulujadi.

Peristiwa ini menambah panjang daftar kecelakaan kerja di kawasan PETI Poboya yang dalam beberapa tahun terakhir kerap memakan korban jiwa.

Sebelumnya, pada 25 Desember 2025 sekitar pukul 03.00 Wita dini hari, sebuah truk pengangkut material tambang mengalami kecelakaan tunggal akibat diduga mengalami rem blong saat melintasi jalur penurunan. Kendaraan tersebut terjun ke bawah, menewaskan pengemudi berinisial UK, warga Desa Tompe, Pantai Barat, setelah sempat dilarikan ke Rumah Sakit Sindhu Trisno Palu.

Pada 3 Juni 2025, dua penambang dilaporkan tewas tertimbun longsor tanah di area PETI Poboya (Kijang 30). Kedua korban berasal dari luar Kota Palu, masing-masing dari Kabupaten Sigi dan Provinsi Gorontalo.

Kemudian pada 11 Desember 2025, longsor kembali terjadi di kawasan PETI Poboya dan menewaskan seorang pekerja tambang berinisial DD, asal Sulawesi Utara, setelah tertimbun material tanah saat bekerja.

Kecelakaan alat berat dan kendaraan tambang juga kerap terjadi. Pada 9 Desember 2025, sebuah dump truck terguling di jalur penanjakan Vavolapo akibat kondisi jalan licin. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, pengemudi mengalami luka-luka. Peristiwa serupa juga terjadi pada 13 Oktober 2025, ketika sebuah truk terguling dan terperosok ke lubang galian, menyebabkan pengemudi luka ringan.

Selain itu, seorang penambang berinisial HR juga dilaporkan meninggal dunia akibat tertimbun longsor material saat proses pemuatan ke truk. Sepanjang tahun 2025, kecelakaan lain turut tercatat, termasuk tabrakan dua truk di area PETI Vatutempa pada Juni 2025 serta insiden pekerja tambang yang harus dilarikan ke rumah sakit akibat kecelakaan kerja pada akhir November 2025.

Rentetan peristiwa ini kembali menegaskan tingginya risiko keselamatan kerja di kawasan pertambangan tanpa izin, sekaligus menjadi sorotan serius terkait lemahnya pengawasan dan penegakan hukum di area PETI Poboya.*

Tinggalkan Balasan