Perkuat Pemahaman K3, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Untad Sambangi Pelindo TPK Pantoloan

waktu baca 3 menit
[radio_player id="2"]
Sejumlah mahasiswa program Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako (Untad) Palu melakukan kunjungan akademik ke Pelindo Terminal Petikemas (TPK) Pantoloan. (FOTO: Humas Pelindo)

Palu – Sejumlah mahasiswa program Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako (Untad) Palu melakukan kunjungan akademik ke Pelindo Terminal Petikemas (TPK) Pantoloan pada Kamis (29/10/2026).

Kunjungan ini digelar guna mempelajari secara langsung penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta pengelolaan lingkungan di kawasan operasional pelabuhan.

Aktivitas terminal peti kemas yang padat mulai dari proses bongkar muat, pengoperasian alat berat, hingga lalu lintas kendaraan menuntut pengendalian risiko kerja yang ketat.

Berbekal latar belakang keilmuan yang beragam seperti gizi, epidemiologi, dan manajemen rumah sakit, para mahasiswa diterjunkan membawa instrumen observasi untuk melihat korelasi antara teori perkuliahan dengan standar keselamatan kerja di lapangan.

Terminal Head TPK Pantoloan, Chaerur Rijal, menjelaskan bahwa penerapan K3 di area kerja pelabuhan berkaitan erat dengan tingginya potensi risiko operasional. Untuk menekan risiko tersebut, pihak perusahaan menerapkan sistem manajemen yang berpatokan pada standar internasional.

“Perusahaan menerapkan sistem manajemen yang mengacu pada ISO 9001 tentang manajemen mutu, ISO 14001 tentang manajemen lingkungan, dan ISO 45001 tentang sistem manajemen K3. Sistem ini menjadi bagian dari upaya Pelindo Terminal Petikemas untuk menjaga konsistensi proses kerja, mengendalikan risiko, dan meningkatkan kualitas pelayanan,” ujar Chaerur.

Selain itu, mutu pelayanan juga dipantau melalui pengukuran Service Level Agreement (SLA) dan Service Level Guarantee (SLG), termasuk efisiensi waktu pelayanan bongkar muat kapal.

Tak hanya fokus pada keselamatan fisik tenaga kerja, TPK Pantoloan juga memaparkan berbagai program pengelolaan lingkungan.

Di antaranya adalah program Greenport yang mencakup penghijauan kawasan, Eco Workplace untuk kenyamanan area kantor, serta tata kelola sampah dan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Sebagai langkah mengurangi emisi gas rumah kaca, TPK Pantoloan kini juga mulai menerapkan efisiensi energi melalui program elektrifikasi pada alat berat dan kendaraan operasional pelabuhan.

Usai sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan observasi lapangan oleh mahasiswa di ruang Planning dan Control serta area operasional pelabuhan. Dalam sesi diskusi hasil pengamatan, isu jam kerja saat terjadi lonjakan kunjungan kapal (traffic) menjadi salah satu sorotan utama.

Mahasiswa pascasarjana Untad, Putra Pratama Ramadhan, mempertanyakan skema penanganan beban kerja pekerja saat lonjakan arus lalu lintas kapal yang dapat memperpanjang durasi operasional hingga 21 jam namun hanya menerapkan dua shift.

Menanggapi hal tersebut, Chaerur Rijal menjelaskan bahwa manajemen menerapkan sistem flexible rest yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan melalui pengaturan manny deploy.

“Dalam pengaturan shift kerja, TPK Pantoloan menerapkan sistem secara global. Kami mengembangkan pengaturan dari level 2 shift 3 group, 3 shift 4 group, hingga 4 shift 5 group sesuai kondisi operasional. Hal ini dilakukan untuk mengatur rotasi jam kerja dan istirahat secara efektif, sehingga setiap group sejatinya tetap bekerja efektif selama 8 jam, bukan 12 jam penuh,” terang Chaerur.

Kunjungan akademik ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara praktisi industri dan akademisi.

Bagi Pelindo TPK Pantoloan sebagai gerbang logistik utama di Sulawesi Tengah kolaborasi ini menjadi wujud dukungan perusahaan terhadap pembelajaran berbasis praktik sekaligus komitmen dalam membangun budaya keselamatan kerja yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan