DPRD Sulteng Pertanyakan Alasan Pemadaman Listrik hingga Jadwal Normalisasi

waktu baca 2 menit
[radio_player id="2"]
Komisi III DPRD Sulteng gelar RDP bersama PLN UP3 Palu membahas tentang penyebab adanya pemadaman bergilir di sejumlah wilayah.

Palu – Ketua Komisi III DPRD Sulawesi Tengah Dandy Adhi Prabowo mempertanyakan alasan pemadaman listrik yang terjadi secara intens di sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah.

Danny menyampaikan hal tersebut dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi III DPRD Sulawesi Tengah bersama PLN UP3 Palu dan Dinas ESDM Sulteng, Selasa (15/9/2026).

Menurut Dandy, pemadaman listrik tidak hanya berdampak terhadap aktivitas sehari-hari masyarakat, tetapi juga kehidupan sosial, fasilitas umum, dan perputaran ekonomi di Sulawesi Tengah.

“Yang ingin kami ketahui adalah mengapa pemadaman ini dilakukan secara intens dan sangat sering,” kata Dandy dalam rapat tersebut.

Dia juga mempertanyakan mekanisme penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai pemadaman listrik.

Dandy mengatakan masyarakat perlu mendapatkan informasi resmi mengenai jadwal pemadaman sehingga dapat mempersiapkan diri terhadap gangguan pasokan listrik.

“Sejauh ini bagaimana pengumuman resmi kepada masyarakat yang terdampak? Karena, jujur, kami yang sering melihat media sosial saja jarang mengetahui jadwal terkait pemadaman listrik ini,” ujarnya.

Selain itu, Dandy meminta PLN menjelaskan target normalisasi sistem kelistrikan di Sulawesi Tengah.

Menurut dia, kepastian mengenai target pemulihan diperlukan karena pemadaman listrik telah berlangsung dan berdampak terhadap berbagai aktivitas masyarakat.

“Selanjutnya, kapan target pernormalan atau normalisasi total sistem kelistrikan yang ada di Sulawesi Tengah?” katanya.

Danny mengatakan persoalan tersebut menjadi salah satu hal penting yang perlu dibahas dalam RDP bersama PLN.

Dia kemudian meminta PLN menjelaskan kondisi sistem kelistrikan Sulawesi Tengah, termasuk jumlah unit pelaksana pelayanan pelanggan (UP3) PLN yang beroperasi di wilayah tersebut.

Manajer PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Palu, Ansar, menyebut sistem kelistrikan Sulawesi Tengah saat ini mengalami defisit sekitar 30 megawatt (MW) di tengah penurunan debit air pada sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) akibat kemarau.

Menurut PLN, pembagian pasokan listrik dilakukan berdasarkan kondisi sistem secara keseluruhan. Sulawesi Tengah mendapat porsi sekitar 11 persen atau sekitar 30 MW dari defisit sistem.

“Kalau saya diminta, maksimal 30 MW. Kalau di atas 30 MW, memang sangat repot bagi kami untuk mengatur pola-pola pemadaman,” ujarnya.*

Tinggalkan Balasan