Palu – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus memperkuat langkah strategis dalam menjawab rendahnya daya saing sumber daya manusia (SDM) melalui program unggulan “Berani Cerdas”.

Program ini dinilai menjadi kunci solusi dalam mempercepat peningkatan kualitas pendidikan sekaligus mendorong capaian Indeks Modal Manusia (IMM) dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Upaya yang akan dilakukan untuk mengantisipasi isu strategis berkaitan dengan kualitas SDM yang masih rendah, dengan meningkatkan IMM melalui program “9 BERANI”, konsen pada kualitas Pendidikan dan Kesehatan.

Langkah strategis yang dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. Hi. Anwar Hafid, dengan membentuk Tim Percepatan Program Prioritas Pembangunan (TP4) SK Nomor 020.7.2/15/Bappeda-G.ST/2026. Tim ini diharapakan dapat mengakselerasi program 9 BERANI di bawah koordinasi Kepala Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah Bapak Dr. Arfan, dengan Dr. Rahmad M. Arsyad, M.I.Kom sebagai ketua tim.

Pembentukan tim percepatan merupakan langkah tepat untuk memastikan program berjalan efektif, terarah, dan berdampak langsung melalui upaya percepatan peningkatan IMM.

Akademisi sekaligus anggota Tim Percepatan Program Prioritas Pembangunan Sulawesi Tengah (P4-Sulteng), Prof. Dr. DjayanI Nurdin, khusus “BERANI CERDAS”, menurutnya, tim percepatan tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi menjadi motor penggerak dalam mengoordinasikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar fokus pada target peningkatan kinerja pembangunan, khususnya pada sektor pendidikan.

“Program Berani Cerdas ini dirancang sebagai solusi konkret untuk menjawab persoalan mendasar SDM, mulai dari akses pendidikan hingga kualitas lulusan,” ujarnya.

Data menunjukkan bahwa sejumlah indikator pendidikan di Sulawesi Tengah masih perlu ditingkatkan. Rata-rata lama sekolah (RLS) tahun 2025 berada pada kisaran 9,55–9,56 tahun, sementara target 2029 mencapai hingga 12,68 tahun. Harapan lama sekolah (HLS) juga masih di angka 13,59–13,60 tahun. Sementara itu, capaian literasi dan numerasi masih tergolong rendah.

Persentase kabupaten/kota yang memenuhi standar minimum literasi baru 7,29 persen dan numerasi berada di kisaran 0,00–7,69 persen.

Melihat kondisi tersebut, Program Berani Cerdas difokuskan mencari solusi sebagai upaya kongkrit, berkaitan dengan yang pertama menekan angka putus sekolah, kedua meningkatkan rata-rata lama sekolah, ketiga memperkuat kemampuan literasi dan numerasi, serta keempat mendorong SDM yang lebih kompetitif dan siap kerja.

Sebagai langkah konkret lainnya, Berani Cerdas menghadirkan dua skema utama, yaitu afirmasi bagi masyarakat kurang mampu dan beasiswa prestasi bagi mahasiswa berprestasi. Program ini tidak hanya menyasar mahasiswa di dalam daerah, tetapi juga putra-putri Sulawesi Tengah yang menempuh pendidikan di luar daerah.

“Ini solusi agar tidak ada lagi anak Sulteng yang gagal kuliah hanya karena keterbatasan biaya,” jelas Djayani.

Di tahap awal pelaksanaan, program sempat menghadapi sejumlah kendala seperti potensi bantuan ganda dan lemahnya verifikasi data. Namun, pemerintah kini telah melakukan pembenahan yang signifikan.

Jika hanya berdasarkan pada NIK sebagai dasar data mahasiswa, akan menghadapi kendala dalam menentukan berapa besaran SPP atau biaya kuliah tiap semester. Bila masih menggunakan NIK, menimbulkan indikasi adanya mahasiswa tidak aktif perkuliahan namun mendapatkan Beasiswa BERANI tersebut.

Untuk menghindari hal tersebut, saat ini TP4-Sulteng menyarankan kepada Tim Beasiswa Berani Cerdas, selain menggunakan NIK, dilengkapi dengan Nomor Induk Mahasiswa (NIM). Sehingga kesalahan sebelumnya dapat dihindari.

Sistem pembayaran sebelumnya menyalurkan beasiswa langsung ke rekening mahasiswa yang bersangkutan, dengan metode ini adanya indikasi bahwa mahasiswa tersebut menyalahgunakan dengan tidak membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP).

TP4-Sulteng menyarankan agar membuat MOU antara Pemerintah Daerah (Dinas Pendidikan Sulawesi Tengah) dengan Semua Pimpinan Perguruan Tinggi tempat Mahasiswa menempuh perkuliahannya se Indonesia. Kemudian menyarankan pembayaran SPP dilakukan langsung pembayarannya ke Perguruan Tinggi tersebut.

Selanjutnya Perguruan Tinggi yang melakukan verivikasi berdasarkan nama-nama mahasiswa yang terdaftar dan aktif pada masing-masing perguruan Tinggi tersebar di Indonesia.

“Sekarang sistemnya jauh lebih rapi dan akuntabel. Risiko kesalahan penyaluran sudah bisa diminimalisir,” tegasnya.

Ke depan, Berani Cerdas akan diarahkan lebih spesifik sesuai kebutuhan pembangunan daerah. Bidang prioritas seperti kesehatan, pertambangan, dan sektor industri menjadi fokus utama. Untuk jenjang pendidikan tinggi, khususnya S2 dan S3, akan diterapkan sistem kuota berbasis kebutuhan daerah guna mencegah pengangguran terdidik.

Bahkan, skema ikatan dinas akan diberlakukan bagi profesi tertentu seperti dokter spesialis agar lulusan dapat langsung mengabdi di daerah. Termasuk didalamnya adalah sekolah kedinasan.

Untuk menjamin keberlanjutan program, TP4-Sulteng mendorong penguatan regulasi dari Peraturan Gubernur menjadi Peraturan Daerah (Perda). Evaluasi program juga akan difokuskan pada dampak nyata, seperti kelulusan tepat waktu, peningkatan indeks prestasi, serta serapan kerja lulusan.

Selain itu, tracer study akan dilakukan untuk memastikan kontribusi penerima program terhadap pembangunan daerah. Dengan berbagai langkah perbaikan dan strategi tersebut, Program Berani Cerdas diyakini tidak hanya membuka akses pendidikan, tetapi juga menjadi solusi jangka panjang dalam menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan daya saing daerah.

“Jika SDM kita cerdas dan berkualitas, maka mereka akan mampu membangun daerahnya sendiri. Itulah tujuan besar dari program ini,” tandas Djayani.

Berani Cerdas diproyeksikan menjadi fondasi utama pembangunan manusia di Sulawesi Tengah, mencetak generasi unggul yang tidak hanya siap bersaing, tetapi juga mampu menjadi penggerak pembangunan daerah menuju “Sulteng Nambaso”.*