INFOSULTENG.ID, Palu – Meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) khususnya di Kabupaten Morowali pada tahun 2024, mendapatkan atensi dari pegiat lingkungan hidup, sekaligus pendiri Ruang Setara (RASERA) Project, Aulia Hakim.

Menurutnya, aktivitas industri pemurnian nikel di kawasan Kabupaten Morowali menjadi penyebab utama meningkatnya kasus ISPA tertinggi di provinsi ini.

Morowali merupakan rumah bagi dua kawasan industri besar, yakni Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Huabao Industrial Park (IHIP), yang operasionalnya masih mengandalkan energi kotor seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara.

“Apa yang terbukti hari ini sedari dulu telah kami suarakan. Ini menunjukkan bahwa pemerintah gagal menjamin kesehatan dan keselamatan warganya. Sayangnya, hingga saat ini, tidak ada mitigasi atau antisipasi yang dilakukan untuk mengatasi dampak industri tersebut,” tegas Aulia, Minggu, 12 Januari 2025.

Aulia Hakim, pendiri Ruang Setara (RASERA) Project dan pegiat lingkungan yang vokal mengkritik dampak hilirisasi nikel di Sulteng, menyatakan kekecewaannya terhadap pemerintah.

Ia menyoroti bahwa hingga tahun 2023, terdapat tiga unit PLTU dengan total kapasitas 1.800 MW di kawasan IMIP. Debu dan kepulan asap hitam dari cerobong pembangkit listrik berbahan bakar batu bara tersebut diduga kuat menjadi penyebab utama pencemaran udara.

Limbah Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) juga dianggap memicu penyakit kulit dan gangguan pernapasan yang banyak dialami masyarakat sekitar.

Aulia juga mengkritik kebijakan dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021–2030, yang seharusnya mendorong pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sebesar 59%.

Namun, pemerintah tetap mengizinkan pembangunan PLTU di kawasan industri, yang menurutnya menunjukkan keberpihakan terhadap kepentingan pemodal.

“Ini adalah letak sesat pikir pemerintah. Kalau negara punya kekuatan atas roda bisnis hilirisasi nikel ini, seharusnya perusahaan-perusahaan sudah mentransisikan penggunaan energi mereka ke EBT. Tapi yang terjadi, pemerintah terus tunduk pada kepentingan pemodal,” jelas Aulia.

Ia juga mengkritik program hilirisasi nikel yang digalakkan pemerintah pusat, termasuk oleh Presiden Prabowo Subianto, dengan alasan ketahanan energi. Menurutnya, program ini hanya omong kosong.

“Trend kendaraan listrik di negara maju dan kota besar di Indonesia lahir dari pengorbanan para pekerja yang hidup dalam polusi tanpa jaminan keselamatan dari negara,” ujarnya.

Aulia mendesak Presiden Prabowo Subianto, Gubernur Sulteng Rusdy Mastura, dan Bupati Morowali untuk bertanggung jawab atas keselamatan pekerja dan masyarakat di sekitar kawasan industri nikel.

Aulia menegaskan bahwa tanpa aksi nyata dari pemerintah dan pihak industri untuk beralih ke energi bersih, kondisi kesehatan masyarakat di kawasan industri nikel akan semakin terpuruk.

“Masyarakat Morowali berhak atas udara bersih dan lingkungan yang sehat, bukan hanya menjadi korban dari pembangunan ekonomi yang tidak berkelanjutan,” tutupnya.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, kasus ISPA pada tahun 2024 mencapai 305.191 kasus, naik signifikan dari 262.160 kasus pada tahun 2023.

Pada tahun 2024, lonjakan tertinggi terjadi pada bulan Juni dengan 38.441 kasus, sementara bulan Desember mencatat angka terendah, yakni 20.226 kasus. RIL