Palu – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Tahun 2026 pada Senin (27/4) di Grand Sya Hotel. Hadir Gubernur dan Wakil Gubernur Sulteng, bupati, wali kota, serta pemangku kepentingan pembangunan daerah.
Gubernur Anwar Hafid menegaskan Musrenbang sebagai forum strategis untuk menyatukan visi menghadapi tantangan pembangunan.
“Jika tidak, kita berjalan sendiri-sendiri, kepala desa, camat, bupati, hingga gubernur, tanpa arah terintegrasi,” tegasnya.
Gubernur menekankan pengentasan kemiskinan sebagai fokus utama, meski anggaran besar belum beri dampak optimal. “Dengan potensi SDA kita, ini peluang besar. Butuh sinergi, evaluasi berkelanjutan, agar program tepat sasaran,” ujarnya.
Gubernur menyoroti ketidakwakilan kelompok desil 1-2 dalam forum perencanaan. “Mereka jarang bersuara, padahal paling butuh intervensi. Pendekatan harus lebih proaktif,” katanya. Ia apresiasi program pusat seperti afirmasi pendidikan dan jaminan sosial, dorong daerah sesuaikan kebijakan.
Ia ajak kepala daerah bersatu lintas politik. “Mau putih, biru, merah, atau hitam, hari ini kita bersatu untuk rakyat.”
Di sektor pendidikan, Gubernur komitmen wajib belajar 13 tahun. “Pendidikan hak dasar, solusi kurangi beban masyarakat.” Sektor kesehatan pun prioritas via jaminan layanan bagi kurang mampu. “Pendidikan dan kesehatan kewajiban negara.”
Targetnya, turunkan kemiskinan signifikan jadi 5 persen pada 2028–2030 melalui perencanaan kolaboratif, selaras Asta Cita nasional, visi “Sulteng Nambaso”, dan program Berani Cerdas.
Menutup arahan, Gubernur ajak jadikan Musrenbang momentum konsolidasi. “Dengan kebersamaan, perencanaan tak salah arah dan jawab kebutuhan rakyat,” tandasnya.*