INFOSULTENG.ID, Palu – Pembangunan Masjid Raya Baitul Khairaat Sulawesi Tengah dipastikan akan rampung pada akhir April 2025. Berdiri di atas lahan hampir satu hektar, masjid ini pertama kali dibangun pada era Gubernur M. Yasin atas saran Guru Tua, Al-Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufrie. Namun, gempa bumi berkekuatan 7,4 SR pada 2018 merusak bangunan lama hingga tak bisa lagi digunakan.
Di era kepemimpinan Gubernur H. Rusdy Mastura, pembangunan kembali eks Masjid Agung Palu dimulai dengan desain baru yang sayembarakan pada 2020. Proyek ini menggunakan skema multi years dengan anggaran mencapai Rp363 miliar.
Pada Jumat, 7 Februari 2025, Gubernur Rusdy Mastura meresmikan penggantian nama masjid menjadi Masjid Raya Baitul Khairaat Sulawesi Tengah.
Salah satu tokoh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sulteng, Sofyan Farid Lembah, mengapresiasi pembangunan masjid tersebut. Ia menilai bahwa Masjid Raya Baitul Khairaat adalah warisan monumental yang akan dikenang hingga akhirat.
“Saya akui, Kak Cudy adalah gubernur pertama yang berhasil membangun masjid berskala provinsi dengan dana daerah. Ini legacy terbaik,” ujarnya kepada awak media saat menghadiri pernikahan putri H. Datu Wajar Lamarauna dengan putra Prof. Dr. Slamet Riady Cante di Masjid Al-Muhksinin Al-Khaeraat, Palu.
Sofyan menambahkan bahwa tantangan bagi gubernur selanjutnya adalah melanjutkan visi besar Rusdy Mastura, yakni menjadikan Masjid Raya Baitul Khairaat sebagai pusat kebudayaan, pemikiran, ekonomi mikro, serta wisata religi umat Islam.
“Kalau mendengar sambutan Kak Cudy saat peresmian nama masjid, gubernur penggantinya harus bisa meneruskan cita-cita ini. Karena niatnya mulia. Rakyat Sulteng bangga, pajak mereka terwujud dalam masjid megah. Masuk surga semua kita,” katanya sambil tertawa.
Gubernur Rusdy Mastura menegaskan bahwa pengelolaan masjid akan dilakukan secara profesional dan tetap berada di bawah kontrol Pemprov Sulteng. Untuk itu, akan dibentuk Badan Pengelola Masjid Baitul Khairaat guna memastikan operasional yang baik.
“Masjid ini tidak boleh digunakan untuk pesta pernikahan. Kalau akad nikah, silakan. Tapi pestanya jangan di sini. Tidak boleh ada nyanyian di sekitar masjid,” tegasnya.
Di sisi lain, sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi umat, di area sebelah kanan pintu masuk masjid akan dibangun food court atau pujasera, yang nantinya dikelola oleh Badan Usaha Milik Masjid (BUMM).
Badan ini akan memberdayakan pelaku usaha kecil dan mikro di sekitar masjid, termasuk dalam aspek kebersihan, kenyamanan, kesehatan jamaah, serta keamanan lingkungan masjid.
Saat ini, progres pembangunan Masjid Raya Baitul Khairaat telah mencapai 70 persen, bukan 78 persen seperti yang beredar sebelumnya. Kontrak proyek dijadwalkan selesai pada akhir April 2025.
Namun, terkait apakah masjid ini sudah dapat digunakan untuk salat Idulfitri, Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (Cikasda) Sulteng, Rully Djanggola, belum bisa memastikan.
“Kami masih melihat perkembangan konstruksi dan kebijakan pimpinan ke depan,” ujarnya.
Dengan megahnya pembangunan ini, Masjid Raya Baitul Khairaat diharapkan menjadi ikon baru kebanggaan masyarakat Sulawesi Tengah sekaligus pusat aktivitas keagamaan dan ekonomi umat. *