PALU – Kandungan merkuri yang mencemari air dan tanah di Kelurahan Poboya, Kota Palu, akibat pengolahan emas, menjadi perhatian serius bagi kesehatan dan lingkungan. Merkuri, yang digunakan dalam proses ekstraksi emas, menyisakan residu berbahaya yang mencemari lingkungan sekitar.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tiga mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) Palu mengungkapkan bahwa kandungan merkuri di area pengolahan emas Poboya mencapai 0,0068 hingga 0,0305 ppm. Meski terlihat kecil, paparan merkuri ini memiliki dampak besar terhadap ekosistem dan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah Lagarutu, yang menjadi lokasi tambang emas ilegal (PETI) dan konsesi PT Citra Palu Minerals (CPM).

Dampak Berbahaya Merkuri Terhadap Kesehatan dan Lingkungan

Dr. Ir. Bambang Sardi, dosen Kimia Untad, menegaskan bahwa pencemaran merkuri berisiko tinggi bagi kesehatan manusia, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil.

“Paparan merkuri bisa menyebabkan keracunan, gangguan neurologis, hingga kerusakan jangka panjang pada sistem saraf,” jelasnya dilansir dari diksi.net.

Dampak tersebut semakin parah ketika merkuri berubah menjadi metilmerkuri, yang dapat terakumulasi dalam rantai makanan, mengancam flora, fauna, dan bahkan hasil pertanian warga.

Selain kesehatan, pencemaran merkuri juga berdampak pada lingkungan dan ekonomi lokal. “Air dan tanah yang tercemar mempengaruhi kualitas hasil pangan, yang pada gilirannya memengaruhi ketahanan pangan masyarakat,” tambah Bambang.

Sikap Apatis dan Konflik Sosial

Meski ancaman pencemaran merkuri ini telah berlangsung sejak 2006, penanganannya masih minim. Dr. Syamsuddin, dosen MIPA Untad, mengaku sudah tidak berani lagi menggunakan air dari Poboya sejak 2007.

“Tidak ada gunanya memberi saran kepada pemerintah, mereka tidak pernah mau mendengarkan,” keluhnya.

Selain itu, pertambangan emas ilegal di Poboya juga memicu konflik sosial. Menurut Prof. Dr. Slamet Riyadi Cante, pertambangan tanpa izin sering menimbulkan pertikaian antar kelompok pekerja. Namun, di sisi lain, tambang ini juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar.

Kolaborasi untuk Solusi

Mengatasi pencemaran merkuri memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi lingkungan. Dr. Bambang Sardi menyarankan penguatan regulasi terkait penggunaan merkuri, edukasi masyarakat tentang bahaya merkuri, serta pengembangan teknologi pengolahan emas yang lebih ramah lingkungan sebagai solusi jangka panjang.

Pemantauan kualitas air dan tanah juga harus dilakukan secara berkala untuk meminimalisir dampak pencemaran. Krisis lingkungan di Poboya ini memerlukan tindakan cepat dan tegas untuk menyelamatkan generasi mendatang dari ancaman merkuri. RIL