INFOSULTENG.ID, Parigi Moutong – Meski dikenal sebagai salah satu daerah dengan sebaran pohon kelapa terbanyak di Sulawesi Tengah, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) hingga kini belum mampu menarik investasi besar di sektor kelapa. Padahal, potensi komoditas ini sudah lama dilirik investor.

“Para investor sudah melirik potensi kelapa di Parimo meskipun belum ada yang berinvestasi,” ujar Kepala Bidang Industri Hasil Hutan, Kerajinan, Logam, Mesin, dan Aneka Alat Angkut Disperindag Parimo, Narjan Djibran, dikutip dari channelsulawesi.id, Jumat (23/5/2025).

Menurut Narjan, salah satu hambatan utama adalah belum beroperasinya Sikim Kelapa Terpadu di Desa Avulua, Kecamatan Parigi Utara, yang sebenarnya dirancang sebagai sentra produksi kelapa di daerah tersebut.

“Pengoperasian fasilitas ini masih menunggu keputusan kementerian terkait siapa yang akan mengelolanya, apakah UPTD, koperasi, atau BUMDes,” jelasnya.

Tak hanya itu, pola distribusi kelapa di Parimo yang masih dilakukan secara tradisional juga menjadi penghalang utama masuknya investor.

Saat ini, banyak pelaku usaha membeli kelapa langsung dari petani, lalu mengupasnya dengan cara kupas babi (metode tradisional), sebelum dijual dalam bentuk mentah.

“Mereka beli kelapa dari petani, kupas pakai metode kupas babi, lalu langsung dijual. Pola ini tidak efisien dan sulit menarik investor besar,” ungkap Narjan.

Sebagai langkah perbaikan, Disperindag Parimo sedang menyusun Peraturan Bupati (Perbup) yang akan mengatur tata niaga kelapa dalam skala besar.

Regulasi ini diharapkan memberi kepastian hukum dan arah yang jelas dalam perdagangan kelapa, sehingga dapat meningkatkan daya tarik investasi.

Narjan juga menekankan bahwa kelapa Parimo punya potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai jual tinggi, seperti nata de coco dan briket, yang bisa membuka peluang pasar lebih luas.

“Kabupaten Parimo memiliki potensi besar dalam komoditas kelapa yang kalau diolah bisa memiliki nilai jual yang tinggi,” tandasnya.*