Palu – Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu, Arif Miladi, mendorong tiga Ranperda yang menjadi sorotan utama tahun ini yaitu Ranperda tentang Kota Layak Anak, Pendidikan Kebencanaan, dan Kota Hijau.
Hal tersebut disampaikannya saat diwawancara di ruangan Komisi A DPRD Kota Palu, Senin, 4 Agustus 2025.
Ranperda Kota Layak Anak menjadi salah satu fokus karena selaras dengan program pemerintah Kota Palu yang kini gencar membangun taman-taman kota dan ruang terbuka hijau ramah anak.
“Perda ini penting untuk memperkuat perlindungan hukum terhadap hak-hak anak di lingkungan perkotaan,” ungkap Arif.
Sementara itu, Ranperda Pendidikan Kebencanaan dinilai paling strategis dan inovatif karena jika disahkan, Palu akan menjadi kota pertama di Indonesia yang memiliki Perda khusus tentang pendidikan kebencanaan.
“Kami sudah studi banding ke Yogyakarta, Sleman, dan Solo. Tujuannya, agar sejak dini ada edukasi kebencanaan yang masuk dalam kurikulum sekolah,” jelasnya.
Palu dinilai layak memulai inisiatif ini mengingat pengalaman luar biasa pada bencana 2018 yang melibatkan gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi dalam satu kejadian. Perda ini akan melibatkan berbagai pihak pemerintah, relawan, NGO, hingga masyarakat.
Menurut Arif, Ranperda Kota Hijau juga tak kalah penting karena menyentuh isu krusial seperti pemanasan global, polusi udara, dan minimnya Ruang Terbuka Hijau. Jika berhasil disahkan, Palu akan menjadi kota ketiga di Indonesia setelah Dumai (Riau) dan Depok (Jawa Barat) yang memiliki Perda Kota Hijau.
“Perda ini bukan hanya soal menambah RTH, tetapi juga tentang edukasi lingkungan, pengurangan emisi, dan kontribusi nyata terhadap penyelamatan bumi,” ucap Arif.
Arif berharap seluruh Ranperda yang dibahas tidak hanya rampung secara administratif, tetapi benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat.
“Kami ingin bersinergi dengan pemerintah daerah. Jangan jalan sendiri-sendiri. Semua perda yang kami dorong ini mendukung program pemerintah, mulai dari anak-anak, bencana, sampai lingkungan,” kata Arif. RIL