INFOSULTENG.ID, Bengkulu – Kecelakaan tragis terjadi di perairan Pantai Malabero, Kota Bengkulu, Minggu sore (11/5), ketika kapal wisata Tiga Putra tenggelam akibat cuaca buruk.

Kapal yang tengah mengangkut puluhan wisatawan tersebut diterjang badai sekitar pukul 15.30 WIB, menyebabkan tujuh orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka.

Dari 104 orang di atas kapal terdiri dari 6 awak dan 98 penumpang tercatat 7 orang meninggal dunia dan 30 lainnya mengalami luka-luka.

Korban meninggal antara lain berasal dari Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Bengkulu. Para korban luka saat ini tengah menjalani perawatan di RS Bhayangkara dan RS HD Kota Bengkulu.

PT Jasa Raharja bergerak cepat merespons insiden tersebut. Direktur Operasional Jasa Raharja, Dewi Aryani Suzana, menyampaikan duka mendalam atas musibah ini.

Ia menegaskan bahwa seluruh korban mendapat perlindungan sesuai ketentuan undang-undang.

“Kami hadir untuk memberikan perlindungan dasar bagi korban kecelakaan angkutan umum. Seluruh korban luka-luka telah kami jamin, dan santunan untuk korban meninggal dunia juga telah kami siapkan,” ujar Dewi.

Santunan sebesar Rp50 juta akan diberikan kepada ahli waris korban meninggal dunia. Sementara itu, biaya perawatan korban luka dijamin maksimal hingga Rp20 juta, yang dibayarkan langsung ke rumah sakit.

Jasa Raharja juga memberikan tambahan manfaat berupa biaya ambulans hingga Rp500 ribu dan pertolongan pertama (P3K) hingga Rp1 juta.

Kepala Jasa Raharja Kanwil Bengkulu, Fitri Agustina, menjelaskan bahwa tim mereka telah turun langsung ke lapangan untuk berkoordinasi dengan pihak Ditpolair, Dinas Perhubungan, kepolisian, rumah sakit, hingga pemilik kapal.

“Kami terus melakukan pendampingan di rumah sakit dan posko terpadu serta menjalin komunikasi dengan keluarga korban untuk memastikan proses penyerahan santunan berjalan cepat dan tepat,” jelas Fitri.

Jasa Raharja juga mengingatkan pentingnya memperhatikan aspek keselamatan dalam wisata air.

“Kelayakan kapal dan kondisi cuaca harus menjadi prioritas. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak agar keselamatan penumpang lebih diperhatikan,” tutup Dewi Aryani Suzana.*