Palu — Dinas Perdagangan Kota Palu memperketat pengawasan distribusi LPG 3 kilogram menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Melalui Satgas LPG, inspeksi mendadak (sidak) digencarkan hingga ke tingkat pangkalan dan pasar masih ditemukannya praktik penjualan di atas harga eceran tertinggi (HET).
Dari hasil sidak di lapangan, ditemukan harga LPG 3 kilogram di tingkat pengecer mencapai Rp40.000 hingga Rp45.000 per tabung, jauh melampaui ketentuan yang telah ditetapkan melalui peraturan gubernur. Bahkan, masih ada pangkalan yang terindikasi memasok LPG ke pengecer dengan harga tinggi.
“Terhadap pangkalan yang melanggar, kami tidak hanya memberikan teguran, tetapi juga menjatuhkan sanksi berupa pengurangan kuota, pengalihan LPG subsidi ke non-subsidi, hingga penutupan pangkalan jika pelanggaran terus berulang,” Kepala Dinas Pergadangan Kota Palu, Zulkifli, Kamis, 18 Desember 2025.
Selain itu, tim juga menemukan praktik penjualan LPG dari luar daerah yang dibawa menggunakan kendaraan dan dijual langsung di pasar. Temuan tersebut langsung ditindak bersama Satgas LPG guna mencegah kelangkaan dan permainan harga di tingkat konsumen.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menetapkan HET baru untuk LPG tabung 3 kilogram melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor 500.10.8.3/111/Ro.Ekon-G.ST/2025.
Penyesuaian harga ini didasarkan pada jarak distribusi, dengan HET untuk jarak 0–60 kilometer ditetapkan sebesar Rp 20.000 per tabung.
Tak hanya LPG, Zulkifli menurutkan bahwa pihaknya juga melakukan sidak di tingkat distributor dan pasar untuk memastikan stabilitas pasokan bahan pokok. Pengawasan ini melibatkan Satgas Pangan guna menjamin distribusi berjalan lancar dan harga tetap terkendali.
Di sisi lain, Dinas Perdagangan memastikan ketersediaan bahan pokok menjelang Natal dan Tahun Baru dalam kondisi aman dan mencukupi, meski terjadi peningkatan permintaan.
Pendataan terus dilakukan hingga tingkat distributor untuk memastikan stok beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya tersedia di pasar-pasar Kota Palu.
Sebagai upaya menekan lonjakan harga dan mengendalikan inflasi, Pemkot Palu menggelar operasi pasar murah dengan dua skema, yakni pasar murah konvensional menggunakan tenda serta pasar murah mobile atau pasar bergerak yang dikenal dengan nama Gade Nolumako yang memiliki arti “Pasar Bergerak”.
Pasar bergerak ini menyasar sejumlah gereja di Kota Palu, di antaranya Gereja BK wilayah Tipo, gereja di Jalan Tangkasi, kawasan Maesa, hingga gereja di Jalan Sisingamangaraja.
Pengawasan juga dilakukan terhadap distribusi BBM. Sidak SPBU difokuskan pada SPBU yang berada di jalur mudik untuk memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi selama libur akhir tahun.
Terkait pasokan komoditas pangan, Kota Palu menerima suplai dari berbagai daerah. Kendala distribusi biasanya dipicu cuaca ekstrem, seperti longsor di wilayah penghasil cabai dan tomat dari Parigi Moutong. Namun, kondisi pasokan dari Kabupaten Sigi terpantau lancar, sementara bawang merah yang dipasok dari wilayah lain di luar Sulteng seperti Enrekang dan Bima dipastikan aman hingga pergantian tahun. RIL