Kecelakaan Kerja di Kawasan PT IMIP, WALHI Catat 6 Insiden Sepanjang 2024

waktu baca 3 menit
Aparat kepolisian melakukan penyelidikan penyebab kecelakaan di tungku PT ITSS, kawasan IMIP, Morowali, Sulawesi Tengah. (FOTO: DOK. POLRES MOROWALI)

INFOSULTENG.ID, Morowali – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Tengah (Sulteng) mencatat di kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), yang menaungi 53 perusahaan, terjadi sejumlah kecelakaan kerja sepanjang 2024.

Dalam catatan terbaru WALHI Sulteng tersebut, terdapat enam insiden besar yang melibatkan enam perusahaan berbeda, dengan dampak mulai dari korban luka ringan hingga meninggal dunia.

  1. PT Sulawesi Mining Investment
    Pada 21 Januari 2024, terjadi ledakan tungku akibat kebocoran gas. Insiden ini menyebabkan dua pekerja laki-laki mengalami luka ringan.
  2. PT Dexin Steel Indonesia
    Kebakaran melanda kolam limbah perusahaan ini pada 25 Oktober 2024. Insiden tragis tersebut menewaskan satu pekerja dan melukai satu lainnya.
  3. PT Walsin Nickel Industrial Indonesia
    Pada 28 September 2024, seorang pekerja bernama Andri meninggal dunia setelah tergelincir dari conveyor belt.
  4. PT RISUN Wei Shan Indonesia
    Insiden listrik pada 31 Januari 2024 mencatat tiga korban luka ringan akibat tersengat listrik.
  5. PT Merdeka Tsingshan Indonesia
    Kebocoran gas pada 20 Maret 2024 menyebabkan 40 pekerja mengalami sesak napas dan pusing.
  6. PT Zhongtsing New Energi
    Ledakan terjadi pada 30 Oktober 2024, namun laporan terkait jumlah korban masih belum lengkap.

Sebelumnya, WALHI Sulteng juga mencatat insiden besar di tahun 2023 yang melibatkan PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel. Pada 24 Desember 2023, ledakan tungku ferrosilicon merenggut nyawa 21 orang, melukai 29 lainnya, dan menyebabkan 10 pekerja mengalami luka berat.

Direktur WALHI Sulteng Sunardi Katili menyampaikan kecelakaan kerja di kawasan industri nikel seperti Morowali dan Morowali Utara bukanlah hal baru.

Sunardi menegaskan bahwa pihaknya telah berulang kali mendesak dilakukannya investigasi dan evaluasi menyeluruh terhadap sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di wilayah tersebut.

“Kami menduga peralatan kerja yang disediakan oleh perusahaan tidak dalam kondisi optimal. Bahkan, ada indikasi bahwa beberapa alat yang digunakan merupakan alat bekas,” ungkap Sunardi, Sabtu, 18 Januari 2025.

Ia menambahkan bahwa penting bagi pihak terkait untuk memastikan kelayakan peralatan kerja serta implementasi sistem K3 yang memadai.

WALHI juga menekankan perlunya evaluasi mendalam terhadap sistem keselamatan kerja di industri pengelolaan nikel, dengan melibatkan pemerintah secara aktif.

“Prinsipnya, diperlukan penilaian menyeluruh untuk memastikan bahwa kecelakaan kerja seperti ini tidak terus berulang,” tambahnya.

Selain itu, Sunardi mengingatkan bahwa sesuai dengan aturan ketenagakerjaan dan kebijakan perusahaan, korban kecelakaan kerja harus mendapatkan santunan. Proses administrasi terkait juga perlu diselesaikan dengan baik agar hak-hak pekerja terjamin.

“Jika kecelakaan terjadi di lokasi kerja dan selama jam kerja, perusahaan wajib memberikan santunan kepada pekerja yang menjadi korban,” tegas Sunardi.

WALHI Sulteng mendesak pemerintah untuk segera bertindak dengan melakukan audit menyeluruh terhadap standar keselamatan kerja di kawasan industri nikel. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan perlindungan terhadap para pekerja dan menghindari insiden serupa di masa mendatang.

Rentetan kecelakaan ini, menurut WALHI, seharusnya menjadi peringatan keras bagi semua pihak terkait untuk lebih serius menangani aspek keselamatan kerja di kawasan industri strategis ini.

Sunardi juga menyampaikan keprihatinannya terhadap rentetan kecelakaan kerja di kawasan industri pengelolaan nikel itu. Salah satu insiden terbesar terjadi di kawasan PT IMIP, khususnya di PT. Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS), dengan korban mencapai sekitar 20 pekerja. Beberapa di antaranya bahkan kehilangan nyawa dalam insiden tersebut di tahun 2023. RIL

Tinggalkan Balasan