Larangan dan Ancaman Memberi Makan Monyet di Kebun Kopi

waktu baca 3 menit
Macaca Tonkeana, satwa endemik Sulawesi Tengah (FOTO: NEPRIMATECONSERVANCY)

Palu – Fenomena warga yang menjadikan kawasan Kebun Kopi di jalur Palu–Parigi sebagai lokasi wisata memberi makan monyet liar telah menjadi perhatian Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah (Sulteng).

Aktivitas yang dianggap hiburan oleh sebagian masyarakat itu dinilai perlahan mengubah perilaku alami monyet berjenis Macaca tonkeana, satwa endemik khas Sulteng.

Kepala Subbagian Tata Usaha BKSDA Sulteng, Cesar, mengatakan Macaca tonkeana merupakan satu-satunya jenis makaka endemik yang spesifik ditemukan di Sulteng.

“Kalau yang spesifik di Sulawesi Tengah itu Makaka Tonkeana. Habitatnya ada di kawasan konservasi milik BKSDA dan juga di Taman Nasional Lore Lindu,” ujar Cesar di ruanganya, Senin, (11/5) saat diwawancara.

Di Pulau Sulawesi, setiap provinsi diketahui memiliki jenis makaka yang berbeda-beda. Sulawesi Utara misalnya dikenal dengan Yaki atau Macaca nigra, sementara Sulawesi Tengah memiliki Macaca tonkeana yang tersebar di sejumlah kawasan hutan konservasi.

Menurut Cesar, hingga kini BKSDA masih berfokus pada pemantauan persebaran habitat Macaca tonkeana dan belum melakukan pendataan populasi secara detail setiap tahun.

“Kalau menghitung jumlah populasi, kami belum sampai ke situ. Sekarang kami masih fokus memantau persebaran dan lokasi keberadaannya,” katanya.

Dia menjelaskan, kawasan konservasi yang dipantau BKSDA tersebar di 18 kawasan di delapan kabupaten. Hampir seluruh wilayah persebaran makaka di daerah tersebut didominasi jenis tonkeana.

Meski berstatus satwa dilindungi, perhatian utama konservasi saat ini masih difokuskan pada satwa dengan tingkat ancaman kepunahan paling tinggi seperti anoa, maleo, dan babirusa.

“Kalau prioritas utama itu sebenarnya anoa, maleo, dan babirusa karena statusnya sudah critical endangered atau terancam punah. Sementara makaka memang satwa dilindungi, tetapi tingkat perlindungannya berbeda,” jelasnya.

Belakangan, kawasan Kebun Kopi yang berada di jalur pegunungan antara Kota Palu dan Kabupaten Parigi Moutong menjadi salah satu titik populer bagi pengendara untuk berhenti dan memberi makan macaca liar. Pemandangan kawanan monyet yang mendekati kendaraan bahkan kerap dijadikan konten media sosial dan wisata keluarga.

Namun di balik itu, BKSDA menilai kebiasaan tersebut dapat berdampak serius terhadap perilaku satwa liar.

“Sekarang mereka tinggal menunggu orang lewat dan sudah malas mencari makan sendiri di hutan. Itu membuat sifat liarnya hilang,” kata Cesar.

Menurutnya, ketergantungan terhadap manusia bisa mengubah pola hidup alami makaka yang seharusnya mencari makan sendiri di habitat hutan. Jika terus berlangsung, satwa tersebut dikhawatirkan semakin kehilangan kemampuan bertahan hidup secara alami.

Pihak BKSDA mengaku telah melakukan berbagai langkah pencegahan, mulai dari sosialisasi melalui media sosial hingga pemasangan papan larangan memberi makan satwa di sekitar kawasan Kebun Kopi.

“Kami sudah sosialisasi lewat media sosial. Di lokasi juga ada kantor seksi kami dan ada petugas yang berjaga. Beberapa plang larangan memberi makan satwa juga sudah dipasang, tetapi ada yang hilang,” ungkapnya.

Selain mengubah perilaku satwa, interaksi langsung antara manusia dan macaca juga dinilai memiliki risiko kesehatan. Cesar mengingatkan adanya potensi penularan penyakit dari satwa liar ke manusia, salah satunya cacar monyet atau monkeypox.

“Kita tidak tahu mereka membawa penyakit atau tidak. Salah satu yang harus diwaspadai itu cacar monyet,” ujar Cesar.

Meski demikian, ia memastikan hingga saat ini belum ada laporan kasus penularan penyakit terkait makaka di Sulawesi Tengah.

Cesar berharap media massa turut membantu mengedukasi masyarakat agar lebih memahami pentingnya menjaga perilaku alami satwa liar, termasuk dengan tidak memberi makan maupun memburu macaca.

“Biarkan mereka hidup dengan sifat liarnya sebagaimana mestinya satwa liar,” jelas Cesar. RIL

Tinggalkan Balasan