Palu – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu, Zet Pakat, melaksanakan reses caturwulan I masa persidangan tahun 2026, di Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Selasa malam, 3 Februari 2026.
Sejumlah aspirasi warga Kawatuna seperti persoalan air bersih, pengaspalan jalan, lampu penerangan jalan, hingga pengadaan kursi dan sound system demi mendukung sarana kegiatan warga.
“Usulan atau keluh-kesah yang perlu saya sampaikan di malam ini yang pertama adalah pengadaan kursi untuk kegiatan-kegiatan pesta maupun duka, karena di RT saya ada kursi tapi masih terbatas,” kata Ketua RT 2.
“Yang kedua, permintaan dari RT 02 pengadaan sound system. Jadi, kami juga belum ada sound system,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua RT 4 Bahtiar, menyampaikan keluhan serius terkait krisis air bersih yang hingga kini belum teratasi. Menurut Bahtiar, persoalan air bersih menjadi masalah paling krusial yang dihadapi warga. Pasokan air dari PDAM dinilai tidak layak, bahkan untuk kebutuhan dasar seperti mandi, cuci, dan kakus (MCK).
“Air dari PDAM jangankan mau diminum, untuk MCK saja tidak layak. Kalau musim hujan airnya keruh, kalau musim kemarau air tidak ada sama sekali,” ungkap Bahtiar.
Karena kebutuhan air bersih yang mendesak, warga akhirnya berinisiatif melakukan swadaya. Setiap kepala keluarga (KK) mengumpulkan dana sebesar Rp500 ribu untuk membangun bak penampungan air di lingkungan mereka.
Namun, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama. Total dana swadaya yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp15,4 juta, dan hampir seluruhnya telah habis meski pembangunan baru sebatas rangka besi.
Aspirasi lain datang dari warga RT 1 yang disampaikan Zarni Pandan. Dia mengatakan, kebutuhan mendesak warga terkait pengadaan tenda kegiatan serta penambahan lampu penerangan jalan. Zarni menyebut, sedikitnya dibutuhkan lima titik lampu jalan untuk menerangi kawasan RT 1 yang selama ini masih gelap dan rawan.
Selain penerangan, Zarni juga menyoroti kondisi infrastruktur jalan lingkungan yang dinilai menjadi wajah utama sebuah kawasan permukiman. Menurutnya, jalan yang layak akan memberi kesan tertata dan nyaman, meskipun kondisi rumah warga sederhana.
“Kalau di kota-kota besar, meskipun rumahnya biasa saja, tapi kalau jalannya bagus, kawasan itu terlihat baik. Jalan ini yang paling krusial,” katanya.
Menanggapi sejumlah aspirasi tersebut, Zet Pakan, menyatakan siap menindaklanjuti usulan warga Kelurahan Kawatuna. Misalnya keluhan krisis air bersih, dia akan langsung berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk rencana pembangunan sumur bor.
Terkait keluhan terkait pengadaan kursi dan sound system, Zet Pakan menyarankan warga agar segera membuat kelompok RT, Zet Pakan menyarankan untuk membuat catatan anggota kelompok Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
“Yang penting bukan pensiunan PNS, atau anggota TNI/Polri,” kata Zet Pakan.
Terkait penerangan atau lampu jalan, pihak Dinas Perkim yang hadir menyampaikan akan terus berupaya memenuhi kebutuhan warga Kelurahan Kawatuna. Selain itu, aspirasi pengaspalan jalan harus menunggu untuk dikerjakan. Sebab pihak pengembang pihak BTN Korpri perlunya menyerahkan aset ke Pemerintah Kota Palu.
“Kalau pengaspalan jalan itu sebenarnya di dinas kami (perkim), tapi kami belum bisa intervensi kalau asetnya belum diberikan ke pemerintah kota,” kata salah satu perwakilan Dinas Perkim Kota Palu.*