Festival Film Tengah 2025 Siap Digelar 5 Hari di Museum Sulteng

waktu baca 4 menit
Konferensi pers Festival Film Tengah 2025 di Kantor Sinekoci. (FOTO: INFOSULTENG.ID/FAHRIL)

Palu – Festival Film Tengah (FFT) 2025 akan hadir sebagai ruang kolektif untuk merayakan film sebagai praktik seni, medium refleksi, dan bagian tak terpisahkan dari budaya kontemporer di Sulawesi Tengah (Sulteng). Dinisiasi oleh Yayasan Sinema Mandiri Sinekoci Palu, festival ini akan berlangsung pada 6-10 Agustus 2025 di Museum Sulawesi Tengah dan terbuka untuk umum secara gratis.

FFT 2025 tak hanya menjadi ajang pemutaran film, tetapi juga sebuah pertemuan kreatif antara sineas dari berbagai latar belakang mulai dari pelajar hingga pembuat film profesional. Festival ini juga membuka ruang partisipasi untuk film-film nasional dan internasional, memperluas jangkauan karya yang dapat dinikmati publik lokal.

Menariknya, istilah “Tengah” dalam FFT tidak semata merujuk pada posisi geografis Sulawesi Tengah. Lebih dari itu, ia dimaknai sebagai simbol keberagaman yang menyatu dalam satu kesatuan. Festival ini menjadi ruang “liminal” atau ruang ambang tempat berbagai kemungkinan baru bisa diuji, baik dalam eksplorasi sinematik maupun kehidupan sehari-hari.

“Festival ini menyoroti pentingnya kreativitas di tengah keterbatasan. Banyak sineas dari Sulawesi Tengah yang harus berkarya dengan sumber daya terbatas, tapi justru dari situ lahir gagasan-gagasan segar yang luar biasa,” ujar Direktur Festival, Ifdhal Permana, Sabtu sore, 2 Agustus 2025.

Festival ini hadir sebagai ruang pertemuan kreatif para pembuat film lintas disiplin dari berbagai latar belakang di Sulawesi Tengah. FFT 2025 merupakan pengembangan dari Festival Film Pelajar yang pertama kali digelar tahun 2024. Kini, cakupannya diperluas untuk menjangkau sineas umum, komunitas film, serta pembuat film dari luar daerah dan mancanegara.

Sejumlah program menarik akan memeriahkan FFT 2025, antara lain:

  • Ruang Tengah (forum komunitas film)
  • Pitching Film Project
  • Kompetisi film untuk pelajar dan umum
  • Program Non-Kompetisi
  • serta kerja sama dengan Tualang Alteraksi.

Program-program tersebut dirancang untuk membuka ruang diskusi, pembelajaran, dan kolaborasi antar pelaku industri film. Penonton pun diajak tidak hanya menonton, tetapi juga memahami lebih dalam proses kreatif di balik sebuah karya film.

Festival Film Tengah 2025 tidak sekadar menghadirkan tontonan, tetapi juga mengundang publik untuk bertanya, mengeksplorasi, dan merayakan semangat kolektif melalui film. Sebuah perayaan budaya dan kreativitas yang lahir dari “tengah” dari ruang yang sering kali luput dari sorotan, namun justru penuh potensi.

Sementara itu, Direktur Artistik, Taufik Qurrahman Kifu menekankan bahwa festival ini tidak hanya menampilkan film dalam pengertian konvensional.

“Kami menempatkan film sebagai pengalaman artistik sekaligus praktik yang sangat interdisipliner. Tidak hanya film naratif seperti yang biasa kita lihat di bioskop, tapi juga karya yang berelasi dengan situasi bermedia hari ini,” jelas Taufik.

Menurutnya, Festival Film Tengah juga menyoroti bagaimana budaya visual saat ini membentuk cara kita memproduksi karya audio-visual. Oleh karena itu, karya-karya yang akan ditampilkan mencakup beragam bentuk, mulai dari sound film, video art, video performance, performance art, hingga film dokumenter.

“Bahkan, kami sempat membuka ruang untuk video klip, dan satu karya berhasil lolos kurasi,” tambah Taufik.

Manajer Festival, Sarah Adilah, menjelaskan bahwa Festival Film Tengah merupakan pengembangan dari Festival Film Pelajar Sulawesi Tengah yang diadakan tahun sebelumnya.

“Kami melihat peluang besar dari gerakan para filmmaker muda di Sulawesi Tengah. Dari pengalaman pribadi sebagai pembuat film yang memulai sejak pelajar, saya melihat bahwa mereka tidak lagi terkotak-kotak dalam kategori fiksi, dokumenter, atau film seni. Semuanya lintas disiplin,” terangnya

Festival tahun ini menghadirkan dua kategori kompetisi yaitu Kompetisi Umum dan Kompetisi Pelajar. Sebanyak 38 film dari berbagai kabupaten di Sulawesi Tengah mengikuti kompetisi umum, sementara kompetisi pelajar diikuti oleh 14 film.

Setelah melalui proses kurasi, enam film dari kompetisi umum dan empat film dari kompetisi pelajar dinyatakan sebagai nominasi. Film-film ini akan dinilai oleh tiga dewan juri yang didatangkan dari luar Sulawesi Tengah guna memberikan perspektif penilaian yang lebih luas.

Tiga dewan juri tersebut adalah:

  • Lulu Ratna, seorang short film enthusiast, peneliti dan penggiat festival film nasional,
  • Khozy Rizal, Sutradara asal Makassar yang telah dikenal secara internasional
  • Manshur Zikri, seniman dan kurator lintas disiplin dari Forum Lenteng.

“Festival ini menjadi ruang penting bagi pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum untuk bersama-sama mengapresiasi dan mendiskusikan film,” tutup Sarah. RIL

Tinggalkan Balasan